Perekonomian Bali Menunjukkan Ketahanan Luar Biasa
Denpasar, Baliglobalnews
Deputi Kepala Perwakilan BI Bali Ronald D. Parluhutan mengatakan perekonomian Bali menunjukkan ketahanan yang luar biasa. Dia menyebutkan dari sisi stabilitas harga, inflasi Bali pada Februari 2026 sebesar 0,70% (mtm) atau 3,89% (yoy). Kenaikan inflasi bulanan terutama dipengaruhi oleh peningkatan permintaan menjelang HBKN Nyepi dan Idul Fitri.
“Kenaikan inflasi tahunan disebabkan faktor base effect diskon tarif listrik yang berlaku pada tahun 2025, sehingga bersifat temporer,” kata Roland pada Minggu (8/3/2026).
Dia menyampaikan pertumbuhan ekonomi Bali pada tahun 2025 sebesar 5,86% (yoy), di atas pertumbuhan nasional (5,39%), ditopang tingginya pertumbuhan LU terkait pariwisata (akomodasi makan minum, perdagangan, transportasi dan pergudangan), serta kuatnya konsumsi rumah tangga dan investasi.
Untuk menjaga stabilitas inflasi menjelang HBKN Nyepi dan Idul Fitri, strategi pengendalian utamanya difokuskan pada operasi pasar murah berbasis prinsip 3T (Tepat waktu, Tepat lokasi, Tepat sasaran), penguatan kerja sama antar daerah, serta komunikasi publik untuk menjaga ekspektasi inflasi masyarakat.
Sejalan dengan upaya mendukung transformasi ekonomi daerah, BI Bali juga terus mendorong perluasan ekosistem ekonomi digital. Advisor BI Bali Indra Gunawan Sutarto memaparkan tren positif pada transaksi nontunai. Proporsi penerimaan pajak dan retribusi daerah melalui kanal digital di Bali, terus meningkat, pada tahun 2025 telah mencapai 46,82%.
Pencapaian ini didukung sinergi BI Bali dengan Pemda, Perbankan, dan Stakeholders terkait di Bali melalui program Pasar Rakyat Bali Go Digital, Banjar Digital dan Nusa.Lembongan Digital Island. Untuk memperluas adopsi QRIS, BI Provinsi Bali, menyelenggarakan program “QRIS Takjil War Ramadan 2026” di Kampung Jawa dan Kampung Sunda, Denpasar.
Sementara Kepala Perwakilan Erwin Soeriadimadja mengatakan di tengah tantangan dinamika geopolitik dan ekonomi global, BI terus memperkuat bauran kebijakan untuk memperkuat stabilitas dan mendorong pertumbuhan. Kebijakan utamanya melalui penetapan BI Rate serta kebijakan makroprudensial yang akomodatif untuk mendukung pembiayaan sektor riil dan menjaga stabilitas sistem keuangan.
Penurunan BI Rate mulai tertransmisikan ke penurunan suku bunga kredit di Bali, yang turun dari 9,67% pada Januari 2025 menjadi 9,36% pada Januari 2026. Hal ini dibarengi dengan penyaluran kredit yang tumbuh tinggi sebesar 7,28% (yoy) pada Januari 2026, yang diharapkan memperkuat pembiayaan sektor riil dan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi. (bgn008)26030820