Dukung Musim Tanam Pertama 2026, Manajemen DTW Jatiluwih Rampungkan Penyaluran 22,8 Ton Pupuk
Tabanan, Baliglobalnews
Manajemen Operasional Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih memastikan ketersediaan pupuk bagi para petani di kawasan Warisan Budaya Dunia (WBD) UNESCO tersebut telah terpenuhi pada awal tahun ini. Memasuki musim tanam pertama Januari 2026, pihak manajemen sukses merampungkan penyaluran bantuan pupuk 22,811 ton kepada 7 tempek subak di kawasan Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan.
Manajer Operasional DTW Jatiluwih I Ketut Purna menyampaikan bahwa seluruh rangkaian distribusi yang dimulai sejak akhir Desember hingga Selasa (6/1/2026) lalu telah berjalan lancar dan diterima langsung oleh kelihan subak di masing-masing tempek. “Kami memastikan seluruh petani yang mengelola lahan seluas 227,41 hektar di kawasan Jatiluwih sudah menerima bantuan pupuk ini. Ini adalah komitmen kami untuk menjaga kualitas beras merah khas Jatiluwih tetap optimal pada musim tanam pertama tahun ini,” ujar Purna ketika dimintai konfirmasi pada Senin (12/1/2026).
Ada yang berbeda dalam penyaluran tahun ini, kata dia, manajemen mengambil kebijakan khusus dengan memberikan tambahan volume pupuk sebagai bentuk apresiasi kepada para petani yang tetap setia mempertahankan pola tanam tradisional. “Standar perhitungan kami adalah 1 kilogram per are. Namun, sebagai bentuk dukungan nyata, kami berikan tambahan 10 kilogram pupuk untuk setiap tempek dari perhitungan standar mereka. Kami ingin petani memiliki cadangan nutrisi yang cukup untuk lahannya,” katanya.
Dia merinci distribusi 22,811 ton pupuk disalurkan kepada 7 tempek dengan dengan jumlah umum 1 kilo per are meliputi Tempek Subak Gunung Sari 4,859 ton pupuk, Subak Kedamaian 2,216 ton, Subak Besikalung 3,763 ton, Subak Kesambi 1,396 ton, Subak Umakayu 2,204 ton, Subak Telabah Gede yakni 6,51 ton, dan Subak Umaduwi 1,863 ton.
Menurut Purna, pemberian bantuan ini merupakan bagian dari sinergi vital antara sektor pariwisata dan pertanian. Menurutnya, keberlangsungan sistem Subak adalah fondasi utama yang membuat Jatiluwih diakui dunia. “Bantuan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan sinergi antara sektor pariwisata dan pertanian. Sebagai kawasan Warisan Budaya Dunia UNESCO, Jatiluwih sangat bergantung pada keberlangsungan sistem subak,” ujarnya.
Dia juga menyampaikan sebelumnya bantuan dari manajemen DTW Jatiluwih diberikan dalam bentuk uang tunai kepada pekaseh untuk pembelian pupuk. Namun, sejak akhir 2025 manajemen mengambil kebijakan baru dengan menyalurkan pupuk secara langsung kepada petani guna memastikan ketepatan jumlah dan waktu distribusi.
Inisiatif bantuan pupuk ini disambut baik oleh para petani. Tambahan 10 kilogram per tempek dinilai sangat membantu dalam mengantisipasi fluktuasi harga sarana produksi pertanian. Dengan dukungan ini, Jatiluwih optimis dapat mempertahankan perannya sebagai lumbung pangan sekaligus destinasi wisata hijau unggulan di Bali pada periode panen 2026 mendatang. (bgn020)26011205