Buntut Pemasangan Seng, Kunjungan Wisatawan ke Jatiluwih Merosot 80 Persen
Denpasar, Baliglobalnews
Manajer Operasional DTW Jatiluwih I Ketut Jhon Purna mengadu kepada Panitia Khusus Tata Ruang, Aset, dan Perizinan (Pansus TRAP) DPRD Bali, bahwa dampak pemasangan seng dan plastik oleh petani dan warga, pascapenertiban bangunan di Jatiluwih, kunjungan wisatawan merosot tajam saat libur akhir tahun.
“Kunjungan wisatawan saat ini turun pak, mencapai sekitar 80 persen. Dan, ini tidak baik untuk keberlangsungan pariwisata Jatiluwih yang selama ini dikenal sebagai ikon sawah terasering Bali dan situs Warisan Budaya Dunia UNESCO,” kata John saat rapat dengar pendapat yang digelar Pansus TRAP DPRD Bali pada Jumat (19/12/2025).
Dia mengungkapkan dampak tersebut bahkan sudah dirasakan pada pasar wisata internasional, khususnya Eropa. Sejumlah wholesaler besar dari Jerman disebut telah menghentikan penjualan paket wisata ke Jatiluwih. “Jadi gini, saya sudah ngomong dengan sistem penjualan perjalanan (extranet) kemarin bahwa itu 3 ada wholesaler besar dari Jerman sudah tidak menjual lagi Jatiluwih,” ujarnya.
Menurut dia, sinyal serupa juga mulai terlihat dari agen perjalanan lain di Eropa. Dia dijadwalkan bertemu dengan sejumlah travel agent pada 22 Desember mendatang, namun informasi awal yang diterima menunjukkan kekhawatiran yang sama. “Nah terus nanti tanggal 22 ini saya juga ketemu sama beberapa travel agen khususnya Eropa, itu katanya juga sudah mulai tidak menjual Jatiluwih lagi. Ini kan preseden buruk banget buat Jatiluwih,” katanya.
Penurunan kunjungan tersebut, kata dia, sangat kontras jika dibandingkan dengan kondisi normal pada musim sepi (low season). Biasanya, Jatiluwih masih mampu menarik ratusan hingga seribuan wisatawan per hari. Namun kini jumlah itu anjlok drastis. “Biasa kita dapat kunjungan yang low season itu, 700-800 sampai 1.000. Sekarang paling dapat tamu 120-150,” ucapnya.
Jhon menjelaskan, salah satu faktor utama yang memicu kekhawatiran wisatawan adalah pemasangan seng dan plastik di kawasan Jatiluwih yang menimbulkan persepsi negatif. Informasi yang beredar membuat wisatawan mengira Jatiluwih sedang mengalami gejolak. “Sekarang tamunya takut, karena mungkin katanya Jatiluwih ada demo dan segalanya, ini takut tamunya,” katanya.
Dampak sepinya kunjungan ini tidak hanya dirasakan oleh pengelola DTW, tetapi juga langsung menghantam perekonomian masyarakat sekitar. Usaha restoran, warung, dan layanan wisata milik warga mengalami penurunan pendapatan signifikan.
Pihaknya tidak menolak penegakan aturan terhadap bangunan yang melanggar. Namun penanganan persoalan tersebut diharapkan tidak mengorbankan keseluruhan kawasan dan masyarakat Jatiluwih. “Yang saya inginkan adalah seng itu tidak ada. Karena itu sangat berpengaruh dengan kunjungan tamu yang Jatiluwih,” katanya.
Untuk itu, pihaknya meminta agar ada langkah cepat dan sinergi antara Pansus TRAP DPRD Bali, Pemerintah Kabupaten Tabanan, pemerintah desa, dan pihak terkait lainnya untuk mencari solusi yang lebih bijak. “Harapan dari DTW mudah-mudahan, saya berharap Pansus TRAP, dari Pemkab Tabanan, dari Permintaan Desa, agar bekerja bersama-sama,” pintanya.
Menjelang libur akhir tahun, Jhon mengaku pesimistis terhadap proyeksi kunjungan wisatawan jika kondisi tersebut tidak segera ditangani. Dia khawatir Jatiluwih akan kehilangan momentum penting yang seharusnya menjadi penopang ekonomi masyarakat. (bgn008)25122001