Denpasar, Baliglobalnews
Gubernur Bali Wayan Koster secara tegas basis pariwisata Pulau Dewata, wajib mempertahankan nilai budaya dan tidak boleh terkontaminasi dengan bisnis yang bertentangan dengan nilai-nilai lokal.
“Pokoknya itu harus banyak. Kalau tidak, pariwisata kita ini akan kalah saing,” ujar Koster dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) III Asita Bali 2025, di Hotel Westin Nusa Dua Bali, beberapa waktu lalu.
Gubernur asal Desa Sembiran, Buleleng, itu menekankan bahwa keunggulan Bali bukanlah pada bisnis hiburan semata, melainkan pada kekayaan adat, seni, dan budaya yang telah diwariskan turun-temurun. Koster juga mengingatkan, menjaga budaya Bali bukan sekadar pilihan, tetapi suatu keharusan demi keberlanjutan pariwisata dan ekonomi daerah.
Ketua DPD PDI Perjuangan Bali itu menegaskan bahwa, Bali tidak boleh meniru konsep wisata dari negara lain yang memasukkan unsur bisnis prostitusi atau kasino. Gubernur Bali juga menolak keras segala bentuk praktik yang bisa merusak citra Bali sebagai destinasi budaya dan spiritual.
“Sekarang pariwisata di negara lain sudah lebih maju. Tapi apa yang diprogramkan di sana, jangan diprogramkan di sini. Tidak boleh ada bisnis prostitusi. Tidak boleh ada judi, kasino, pokoknya. Bali yang terlahir dengan budaya, jangan budayanya dirusak,” ucapnya.
Koster kembali menegaskan bahwa setiap destinasi memiliki ciri khasnya sendiri. Jika negara lain memiliki wisata berbasis hiburan malam atau kasino, Bali tetap harus mempertahankan konsep pariwisata berbasis budaya. “Beda bentuknya. Kalau mau kasino, ya di negara lain. Tapi kalau Bali, itu pariwisatanya budaya. Jangan rusak budaya! Kalau budaya rusak, semua akan rusak. Kita akan mengalami kesulitan, baik secara ekonomi maupun dalam menjaga masyarakat,” jelasnya.
Koster mengingatkan para pelaku usaha pariwisata agar tetap tertib dan mengikuti aturan yang sudah ditetapkan. Ia menegaskan bahwa pariwisata yang berkembang di Bali harus berlandaskan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. “Nah, inilah yang pernah saya jalankan sejak awal. Karena itu, saya meminta semua pelaku usaha pariwisata, ayo tertib! Jangan sampai ada yang melanggar aturan atau mengorbankan budaya kita hanya demi keuntungan sesaat,” katanya.
Dengan sikap tegas terhadap bisnis yang berpotensi merusak moral dan citra Bali, dia berharap para pelaku industri pariwisata ikut berperan aktif dalam mempertahankan keunikan dan daya saing Pulau Dewata di kancah global. (*/bgn008)25030303