Denpasar, Baliglobalnews
Bank Indonesia Provinsi Bali mendukung langkah strategis TPID se-Bali yang memantau harga dan intensifikasi operasi pasar, sehingga capaian inflasi Provinsi Bali dapat terjaga pada rentang sasaran 2,5±1%.
“Dalam pengendalian inflasi ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali senantiasa bersinergi dan berinovasi bersama Pemerintah Provinsi dan kabupaten/kota se-Bali dengan upaya TPID yang berfokus pada 4K,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani pada Rabu (3/5/2026).
Dia menyampaikan strategi tersebut di antaranya intensifikasi operasi pasar murah dan pemantauan harga secara berkala, termasuk monitoring dan sidak pasokan LPG bersubsidi. Dia menyebutkan upaya lain yang dilakukan dengan fasilitasi distribusi pangan serta optimalisasi kerja sama antardaerah oleh Perumda pangan, serta penguatan koordinasi dan penyebarluasan informasi pelaksanaan operasi pasar dan pasar murah kepada masyarakat di kab/kota. “Dengan langkah-langkah strategis tersebut, inflasi tahun 2026 diprakirakan terjaga dalam sasaran 2,5%±1%,” ucapnya.
Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali 2 Juni 2026, Provinsi Bali secara bulanan pada Mei 2026 mengalami inflasi sebesar 0,42% (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan April sebesar 0,01% (mtm), dan lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional bulan Mei sebesar 0,28% (mtm). “Inflasi bulanan meningkat terutama didorong oleh kenaikan harga BBM nonsubsidi, serta tekanan harga komoditas global yang turut memengaruhi dinamika pergerakan inflasi secara bulanan,” katanya.
Inflasi Provinsi Bali secara tahunan meningkat dari 2,08% (yoy) pada April 2026 menjadi 2,99% (yoy). Meskipun inflasi meningkat, level inflasi masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1%.
Secara spasial, 4 kabupaten/kota IHK di Bali mengalami inflasi bulanan pada Mei 2026 yakni Kabupaten Tabanan dengan inflasi bulanan tertinggi 0,54% (mtm) atau 2,78% (yoy). Selanjutnya, Kota Denpasar mengalami inflasi bulanan 0,50% (mtm) atau inflasi tahunan 3,19% (yoy), diikuti Singaraja dengan inflasi bulanan 0,37% (mtm) atau inflasi tahunan 3,17% (yoy), dan selanjutnya Kabupaten Badung yang juga mengalami inflasi bulanan 0,25% (mtm) atau inflasi tahunan 2,64% (yoy).
“Berdasarkan komoditas, secara bulanan inflasi pada Mei 2026 bersumber dari kenaikan harga beras, cabai rawit, bahan bakar rumah tangga, minyak goreng, cabai merah, dan angkutan udara. Inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga canang, tomat, bawang merah, jeruk, dan bawang putih,” katanya.
Dia mengatakan inflasi yang terjaga mendukung daya beli masyarakat di tengah konflik geopolitik global. Ke depan, beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain tingginya permintaan barang dan jasa pada periode HBKN Galungan-Kuningan serta periode high season wisatawan nusantara (libur sekolah).
Selain itu, ketidakpastian cuaca pada peralihan musim hujan ke kemarau disertai potensi El Nino berupa gangguan cuaca dan risiko kekeringan pada beberapa sentra produksi pangan yang mempengaruhi produksi pertanian, serta berlanjutnya ketidakpastian global berpotensi pada kenaikan lanjutan harga bensin dan bahan bakar rumah tangga. (bgn008)26060308