Media Informasi Masyarakat

Tumpek Landep: Antara Filosofi Melawan Kebiasaan Masyarakat

Tumbakbayuh, Bali Global News

Tumpek Landep jatuh setiap 210 hari yaitu pada saniscara kliwon wuku landep secara perhitungan kalender Bali. Masyarakat banyak yang menyebut sebagai otonan besi atau upacara semua benda yang terbuat dari besi sehingga sering dikatakan “Tumpek Besi”.

Ida Bagus Gede Widnyana, yang dalam kesehariannya juga sebagai Bendesa Adat Tumbakbayuh (16/7) mengatakan, makna Tumpek Landep berasal dari “Metu” yang artinya bertemu, dan “Mpek” yang artinya akhir. Jadi, Tumpek merupakan hari pertemuan wewaran Panca Wara dan Sapta Wara, di mana Panca Wara diakhiri oleh Kliwon dan Sapta Wara diakhiri oleh Saniscara (hari Sabtu).


Sedangkan Landep sendiri berarti tajam atau runcing. Bagi umat Hindu di Bali, senjata yang paling utama dalam kehidupan ini adalah pikiran.
Karena pikiranlah yang mengendalikan semuanya yang ada. Tumpek Landep sendiri sesungguhnya adalah pemujaan dan rasa syukur kepada Ida Bhatara Sang Hyang Pasupati yang telah menganugrahkan kecerdasan dan ketajaman pikiran kepada manusia.

Merujuk pada teks Sundarigama Tumpek Landep merupakan pujawali Bhatara Siwa dalam aspeknya sebagai Sang Hyang Pasupati penguasa alam.
Dari pikiran-pikiran tersebut melahirkan daya cipta rasa dan karsa manusia untuk menciptakan sesuatu untuk mempermudah kehidupannya mencapai kebahagiaan. Karena keris, pisau identik dengan tajam, maka pada Tumpek landep masyarakat membuat upacara pemujaan biasanya khusus untuk benda-benda pusaka.


“Secara pribadi saya tidak melarang masyarakat membuat upacara untuk benda dari besi seperti mobil dan juga alat elektronik, mungkin itu wujud terima kasih karena telah memberi manfaat bagi kehidupannya tetapi sebaiknya dilakukakan saat Tumpek Kuningan dan jangan dipakai ajang pamer di medsos seperti yang biasa kita lihat saat ini,” ujarnya. (bgn/wid)20071701

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

- Advertisement -

Comments
Loading...