Dorong Pertanian Berkelanjutan, Unud Hadirkan Teknologi Tanggulangi Lalat Buah Murah
Denpasar, Baliglobalnews
Universitas Udayana terus memperkuat komitmennya sebagai kampus berdampak melalui riset dan inovasi yang menjawab persoalan nyata masyarakat. Salah satunya diwujudkan melalui implementasi teknologi pengendalian hama lalat buah berbasis atraktan alami dan perangkap di Desa Belancan, Bangli.
Ketua Tim Peneliti Dewa Ngurah Suprapta menyampaikan teknologi yang dikembangkan Tim Peneliti Fakultas Pertanian Universitas Udayana ini menjadi alternatif pengendalian hama yang lebih efektif, ekonomis, dan ramah lingkungan dibandingkan penggunaan insektisida kimia sintetis. Kegiatan ini merupakan bagian dari Riset Strategis Institusi (RSI) Universitas Udayana yang didanai Unud untuk memastikan hasil penelitian dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
“Lalat buah merupakan salah satu hama utama yang merusak berbagai jenis buah dan menjadi tantangan bagi petani, termasuk dalam menghasilkan produk hortikultura yang memenuhi persyaratan pasar ekspor,” katanya di Denpasar pada Rabu (12/8/2026).
Menjawab persoalan tersebut, tim mengembangkan kombinasi atraktan alami Definol, dan perangkap Jebags. Definol menggunakan formulasi minyak cengkeh dan minyak pala yang mampu menarik lalat buah hingga jarak sekitar 2,5 kilometer sekaligus melumpuhkannya. Lalat yang lumpuh kemudian jatuh ke dalam air pada perangkap Jebags. Kedua produk tersebut telah didaftarkan untuk memperoleh hak paten.
Teknologi ini mampu menangkap hingga sekitar 1.000 lalat buah per minggu pada wilayah dengan populasi tinggi. Penerapannya membutuhkan biaya sekitar Rp500 ribu per hektar, jauh lebih rendah dibandingkan penggunaan insektisida kimia yang dapat mencapai sekitar Rp3 juta per hektar.
Implementasi dilakukan pada areal tanaman jeruk seluas sekitar 15-18 hektar di Desa Belancan dan luasan yang sama di Desa Kerta, Kecamatan Payangan, Gianyar, dengan melibatkan mahasiswa KKN Universitas Udayana. Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari semangat Kampus Berdampak, yang menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat secara langsung.
Dewa Suprapta menyebutkan bahwa pengendalian lalat buah akan lebih efektif jika diterapkan secara luas melalui konsep wide aerial management, minimal 200 hektare. Karena itu, pengembangan teknologi ini membutuhkan kolaborasi dengan pemerintah dan berbagai pihak agar dapat diterapkan secara masif di Bali.
Rektor Universitas Udayana I Ketut Sudarsana menyampaikan bahwa riset dan inovasi Unud harus berbasis pada persoalan masyarakat dan tidak berhenti di laboratorium maupun publikasi. “Kita berharap riset-riset dan inovasi yang dilakukan benar-benar berbasis pada permasalahan yang dihadapi masyarakat, sehingga tidak berhenti di meja laboratorium atau publikasi, tetapi benar-benar berdampak dan memberikan kesejahteraan kepada masyarakat,” ujarnya. (bgn008)26081217