Dampak Protes Seng Petani, Kunjungan Wisata DTW Jatiluwih Anjlok Lebih dari 20 Persen
Tabanan, Baliglobalnews
Aksi protes yang dilakukan sejumlah petani dan warga lokal di Daerah Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan, mulai berdampak negatif terhadap sektor pariwisata setempat. Pemasangan puluhan lembar seng dan plastik berwarna hitam di lahan pribadi petani sebagai respons atas penyegelan sejumlah akomodasi pariwisata oleh Pansus TRAP DPRD Bali dan Satpol PP Bali, memicu penurunan kunjungan yang signifikan.
Manajer Operasional DTW Jatiluwih Ketut Purna yang akrab disapa John Purna mengungkapkan bahwa manajemen menerima banyak keluhan dan pembatalan kunjungan sejak pemasangan seng dan plastik hitam pada Jumat lalu. “Hampir tiap hari saya ditelepon sama teman (agen perjalanan), ada pembatalan ke Jatiluwih. Mereka berpikir Jatiluwih itu tidak begitu aman atau tidak dalam kondisi baik-baik saja,” ujar John Purna saat dimintai konfirmasi pada Selasa (9/12/2025).
Menurut dia, keberadaan seng dan plastik hitam yang membentang di pinggiran sawah menimbulkan citra visual yang buruk, terutama bagi agen perjalanan yang melayani wisatawan mancanegara (wisman).
John Purna merinci persentase penurunan kunjungan diperkirakan mencapai lebih dari 20 persen dari rata-rata normal. “Biasanya rata-rata kunjungan di angka 700 sampai 800 orang per hari. Sekarang turun, penurunannya bisa 150 sampai 200 orang lebih,” katanya.
Pihak manajemen khawatir jika kondisi ini berlanjut, momen liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) akan terpukul. “Kalau terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan saat Natal dan Tahun Baru, meskipun musim liburan tiba, wisatawan urung ke Jatiluwih,” ungkapnya.
Demi mengambil langkah cepat, John Purna mewakili DTW Jatiluwih telah bersurat kepada Badan Pengelola untuk mencari solusi sengkarut yang terjadi. “Poinnya saya harus melakukan apa sekarang, kalau dibiarkan akan berapa lama seperti ini. Dampak negatif ini kan besar sekali, citra Jatiluwih jadi buruk sekali,” katanya.
Terkait aksi protes, dia berharap agar persoalan yang melibatkan penyegelan bangunan dan isu pertanian tersebut tidak sampai mengorbankan citra Jatiluwih sebagai Warisan Budaya Dunia (WBD). “Masyarakat kan tidak begitu semestinya. Disampaikan aspirasi boleh, cuma janganlah mengganggu kegiatan pariwisata,” katanya seraya menambahkan, pihak manajemen berharap situasi segera kondusif agar target kunjungan akhir tahun dapat tercapai dan citra pariwisata Jatiluwih pulih kembali. (bgn020)25120914