BSI Sedap Malam dan Pemerintah Kecamatan Kediri Targetkan Nihil Sampah ke TPA
Tabanan, Baliglobalnews
Ketika banyak wilayah di Bali mengeluhkan darurat sampah, Bank Sampah Induk (BSI) Sedap Malam di Banjar Kebon, Desa Nyitdah, Kecamatan Kediri, justru mengalami kondisi sebaliknya. Fasilitas yang berdiri sejak tahun 2020 ini mengaku kekurangan pasokan sampah anorganik meski telah melayani 13 desa di Kecamatan Kediri.
Ketua Bank Sampah Induk (BSI) Sedap Malam I Ketut Nada mengatakan bahwa kapasitas mesin pengolahan yang dimiliki jauh lebih besar dibandingkan jumlah sampah yang masuk. “Kami kekurangan bahan. Satu mesin itu bisa mengolah 8 ton per hari, sementara rata-rata sampah yang masuk sekarang hanya sekitar 2 ton sekian per hari,” ujarnya saat ditemui pada Rabu (17/12/2025).
Menurut Nada, keberhasilan ini merupakan buah dari konsistensi penerapan Pergub Bali Nomor 47 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber. Bank Sampah Sedap Malam berhasil mengubah paradigma warga dengan sistem “membeli” sampah anorganik.
Masyarakat, kata dia, kini terbiasa memilah sampah organik didaur ulang di rumah masing-masing, sedangkan anorganik dibawa ke bank sampah untuk ditabung. Residu yang tidak bisa diolah barulah dibuang ke TPA Mandung. “Tujuan kami membeli adalah memberikan ongkos agar masyarakat mau berubah mindset-nya. Kami memberi nilai pada sampah mereka,” katanya seraya menambahkan, saat ini partisipasi masyarakat telah mencapai 60 persen, sehingga sungai-sungai di wilayah tersebut kini bersih dari limbah plastik.
Nada menyatakan Bank Sampah Sedap Malam tidak hanya mengumpulkan sampah, tetapi mengolahnya menjadi bahan baku berkualitas industri. Dengan fasilitas washing lane (mesin cuci, giling, kering), dan mesin pres. Sampah plastik dipilah secara sangat spesifik berdasarkan jenisnya, seperti PP, HDPE, PET, hingga LDPE. Kualitas hasil olahan ini membuat mereka dipercaya oleh pabrik-pabrik besar. “Terkait ekspor, kami bekerja sama dengan Rekopoli untuk pengiriman bahan baku PET ke Hongkong menggunakan kontainer,” ujarnya.
Saat ini, kata dia, operasional didukung oleh 20 tenaga kerja yang mayoritas adalah ibu rumah tangga. Ketelitian mereka dalam memilah menjadi kunci agar barang tidak ditolak (reject) oleh pabrik.
Pihaknya menargetkan jangkauan layanannya dapat mencakup seluruh Kabupaten Tabanan di masa depan. Menurut dia, jika dukungan kebijakan pemerintah kuat dan pola berbasis sumber berjalan maksimal, keberadaan TPA sebenarnya tidak lagi diperlukan.
Merespons kebutuhan bahan baku anorganik tersebut, Camat Kediri I Made Surya Dharma telah mewajibkan seluruh wilayahnya untuk memiliki bank sampah unit. Saat ini, kekuatan suplai didukung oleh 105 bank sampah banjar adat dan 38 bank sampah sekolah dasar (SD) di Kecamatan Kediri.
Alur transaksinya pun telah tertata rapi, kata dia, melalui peran BUMDesma Kecamatan Kediri. Sampah dari warga ditimbang di banjar, dicatat dalam buku tabungan, dan saldonya dapat dicairkan langsung di BUMDesma Kecamatan Kediri. “Pemerintah kecamatan mensuport penuh 100 persen melalui BUMDesma, mulai dari permodalan mesin pencacah hingga prasarana gedung. Saat ini 90 persen Banjar dan sekolah sudah memiliki bank sampah. Target kami adalah nihil pembuangan ke TPA,” katanya.
Pihaknya menambahkan target utama dari gerakan Bank Sampah Unit ini adalah terjadinya perubahan pola pikir (mindset) pada anak-anak usia dini dan masyarakat umum. “Dengan edukasi pemilahan yang benar, diharapkan tidak ada lagi warga yang membuang sampah secara tercampur, apalagi membuang sampah ke tempat pembuangan akhir,” pungkasnya. (bgn020)25171206