Belasan Siswi SMPN 2 Marga Kerauhan Massal Saat Literasi, Pihak Sekolah Berencana Gelar Upacara Rsi Gana
Tabanan, Baliglobalnews
Suasana kegiatan literasi internal di SMPN 2 Marga, Kabupaten Tabanan, berubah menjadi tegang pada Rabu (4/2/2026). Belasan siswi dilaporkan mengalami kerauhan (kesurupan) massal secara tiba-tiba saat hendak memulai persembahyangan bersama di lapangan sekolah. Peristiwa ini diduga dipicu oleh ketidaktahuan siswa mengenai aturan adat (dresta) setempat terkait penggunaan dupa di salah satu area suci sekolah.
Plt. Kepala SMPN 2 Marga Ni Made Dian Kurnia mengungkapkan bahwa insiden bermula ketika seluruh siswa sedang berkumpul di lapangan sekolah. Saat baru memulai doa bersama, salah seorang siswi mendadak berteriak histeris dan langsung dibopong ke ruang guru. “Namun, saat di ruang guru siswi tersebut semakin histeris. Tak lama kemudian, belasan siswi lainnya yang berada di lapangan ikut berteriak serupa. Salah satu dari mereka bahkan mengeluh kepanasan sambil berteriak ‘kebus nira’ (panas tubuh saya),” ujarnya.
Kejadian ini semakin misterius ketika salah satu guru mencoba berkomunikasi dengan siswi yang sedang tidak sadar tersebut. Siswi itu menunjuk ke arah sebuah bebaturan (pelinggih pemujaan) yang terletak di sisi barat sekolah sebagai sumber “rasa panas” yang dia rasakan.
Setelah para guru mengecek lokasi tersebut, siswi yang masih dalam kondisi kerauhan itu memberikan pesan agar tidak menggunakan dupa saat menghaturkan canang atau banten di area bebaturan tersebut.
Pihaknya mengakui bahwa berdasarkan informasi turun-temurun dari para guru dan staf senior di SMPN 2 Marga, memang terdapat aturan tidak tertulis yang melarang penggunaan dupa di lokasi pemujaan tersebut. “Selama ini memang tidak boleh mebanten menggunakan dupa di lokasi itu. Kemungkinan murid-murid baru belum mengetahui hal ini. Ini adalah kejadian pertama kali yang terjadi di sekolah kami,” tegasnya.
Untuk mengantisipasi kondisi yang lebih parah, kata dia, akhirnya pihak sekolah kemudian menghubungi pemangku untuk menenangkan siswi yang kesurupan. Setelah beberapa saat, akhirnya kesurupan massal ini pun bisa diatasi. “Agar kesurupan tidak merembet ke siswa lain, akhirnya kami ambil keputusan untuk memulangkan siswa lebih awal setelah pemberian MBG,” katanya.
Sebagai tindak lanjut secara niskala, SMPN 2 Marga berencana menggelar ritual khusus sebagai bentuk permohonan maaf. “Kami berencana menghaturkan upacara pecaruan dan rsi gana. Mengenai waktunya, kami masih berkoordinasi dan menunggu petunjuk lebih lanjut dari pemangku,” pungkasnya. (bgn020)26040212