BEI Bali Optimistis Pasar Modal Bertumbuh
Denpasar, Baliglobalnews
Di tengah ketidakpastian geopolitik global dan dinamika ekonomi internasional, Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Bali menyatakan optimis pergerakan pasar modal tetap bertumbuh.
“Di tengah berbagai tantangan global, Indonesia masih mempertahankan status investment grade yang menjadi salah satu indikator kuatnya fundamental ekonomi nasional,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bali Bursa Efek Indonesia Agus Andiyasa di Denpasar pada Minggu (2/8/2026).
Dari sisi kinerja, menurut Agus, pasar modal Indonesia menunjukkan tren positif. Hingga saat ini terdapat 963 perusahaan tercatat di BEI, meningkat dari 957 perusahaan pada awal tahun. Nilai transaksi harian rata-rata pada Juni 2026 mencapai Rp24 triliun, meningkat dibandingkan rata-rata tahun 2025 Rp18 triliun per hari.
Selain itu, kata dia, BEI juga mencatat tren IPO yang tetap positif setiap tahunnya, seiring meningkatnya minat perusahaan untuk memperoleh pendanaan melalui pasar modal. Peningkatan jumlah investor domestik juga terus terjadi berkat berbagai program literasi dan inklusi keuangan.
Khusus di Bali, BEI telah memiliki 32 galeri investasi yang bekerja sama dengan perguruan tinggi, komunitas, asosiasi, hingga instansi seperti Rumah BUMN. “Selain itu, terdapat 18 anggota bursa atau perusahaan efek yang beroperasi di Bali untuk memperluas akses masyarakat terhadap investasi pasar modal,” katanya.
Secara nasional, lanjutnya, jumlah Galeri Investasi BEI telah mencapai lebih dari 1.070 unit yang tersebar di berbagai daerah sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap instrumen investasi yang legal dan terawasi.
Dia menyebutkan ketegangan geopolitik seperti konflik Amerika Serikat dan Iran yang belum mereda, serta perang Rusia-Ukraina, masih menjadi perhatian pelaku pasar. Kondisi tersebut turut memengaruhi harga minyak dunia yang berpotensi mendorong inflasi global. “Apalagi bank sentral di sejumlah negara, termasuk Bank Indonesia dan The Federal Reserve (The Fed), masih mempertahankan suku bunga acuannya untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global,” katanya.
Dia menyampaikan pasar saham global juga menunjukkan perkembangan positif, terutama sektor teknologi dan semikonduktor di Amerika Serikat yang ditopang kinerja emiten besar seperti Microsoft. Sementara di Indonesia, pemerintah terus mengeluarkan kebijakan ekonomi yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperkuat pasar modal domestik.
Agus menjelaskan, OJK bersama SRO telah meluncurkan delapan program reformasi pasar modal yang difokuskan pada peningkatan transparansi dan likuiditas. Salah satunya adalah peningkatan batas minimum free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen untuk emiten.
Selain itu, klasifikasi investor diperluas dari sebelumnya sembilan kategori menjadi 39 kategori, sehingga profil investor dapat dipetakan lebih detail. Transparansi juga ditingkatkan dengan mewajibkan keterbukaan pemegang saham di atas satu persen, dari sebelumnya hanya di atas lima persen. “Penegakan peraturan dan sanksi juga diperketat. Perusahaan yang akan melakukan initial public offering (IPO) disaring secara lebih ketat untuk menjaga kualitas emiten yang tercatat di bursa,” katanya.
BEI juga terus melakukan inovasi produk. Selain saham dan obligasi, pasar modal Indonesia akan menghadirkan instrumen baru seperti Exchange Traded Fund (ETF) berbasis emas untuk memperluas pilihan investasi masyarakat. “Semua informasi pasar modal dapat diakses melalui aplikasi IDX Mobile, termasuk fitur virtual trading yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk belajar berinvestasi,” ujarnya. (bgn008)26080310