Tabanan, Baliglobalnews
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabanan mencatatkan tren positif dalam upaya penanganan stunting. Berdasarkan Publikasi Data Stunting Tahun 2025, angka prevalensi stunting di Tabanan turun signifikan menjadi 2,75 persen. Data tersebut dipaparkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan dalam kegiatan publikasi yang digelar di Ruang Rapat Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB), pada Senin (22/12/2025).
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan Ida Bagus Surya Wira Andi mengatakan bahwa data stunting yang dipublikasikan bersumber dari Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM) per November 2025, hasil pengukuran serentak dengan cakupan 100 persen balita sasaran di Kabupaten Tabanan. “Dari total 21.079 balita sasaran, tercatat sebanyak 579 balita mengalami stunting atau sebesar 2,75 persen,” ujarnya.
Dia merinci angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, prevalensi stunting mengalami kenaikan dari 6,3 persen pada tahun 2023 menjadi 7,5 persen pada tahun 2024, sehingga menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Namun demikian, pada tahun 2025 terjadi penurunan persentase stunting dibandingkan tahun sebelumnya, yang menunjukkan bahwa berbagai upaya intervensi mulai memberikan hasil positif meskipun masih perlu diperkuat dan dijaga keberlanjutannya.
Selain data tingkat kabupaten, kata dia, publikasi ini juga menyajikan data prevalensi stunting hingga tingkat kecamatan dan desa. Langkah ini sejalan dengan memperkuat perencanaan pembangunan berbasis data sampai ke tingkat desa, sehingga intervensi dapat dirancang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan wilayah masing-masing.
Wira Andi menegaskan bahwa publikasi data ini bukan sekadar formalitas angka, melainkan pondasi utama untuk aksi nyata di lapangan, khususnya bagi desa-desa yang membutuhkan prioritas penanganan. “Publikasi data stunting bukan hanya menyampaikan angka, tetapi menjadi dasar perencanaan dan pelaksanaan intervensi yang lebih tepat sasaran. Dengan data yang terbuka dan terukur, kita dapat memfokuskan penanganan pada desa-desa yang membutuhkan prioritas, sesuai dengan kondisi dan permasalahan yang dihadapi,” katanya.
Dalam forum tersebut, sejumlah desa juga menyampaikan tantangan penanganan stunting di lapangan, mulai dari persoalan pendataan, pola asuh, kondisi lingkungan, hingga faktor sosial ekonomi. Masukan tersebut menjadi bahan penting dalam menyusun intervensi yang lebih adaptif dan kontekstual.
Terpisah, Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya menegaskan bahwa publikasi data stunting bukan sekadar penyampaian angka, melainkan bagian dari strategi besar pembangunan kualitas hidup masyarakat. “Melalui publikasi data stunting Tahun 2025 ini, Pemerintah Kabupaten Tabanan menegaskan komitmen untuk terus memperkuat keterbukaan data, koordinasi lintas sektor, dan intervensi berbasis bukti. Data yang akurat menjadi dasar penting agar setiap kebijakan dan program benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat,” katanya.
Dia menyatakan penanganan stunting merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan daerah. Oleh karena itu, seluruh pihak diharapkan bergerak bersama untuk mewujudkan Tabanan yang aman bagi tumbuh kembang anak, unggul dalam kualitas sumber daya manusia, serta madani dalam pola hidup sehat dan berkelanjutan.
Penanganan stunting di Kabupaten Tabanan terus diarahkan agar dimulai sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) melalui kombinasi intervensi spesifik dan sensitif, seperti penguatan gizi ibu hamil, promosi ASI eksklusif dan MP-ASI sesuai standar, perbaikan sanitasi dan akses air bersih, pencegahan penyakit infeksi, serta edukasi pola asuh dan pola makan keluarga.
Hadir dalam kegiatan publikasi tersebut perangkat daerah terkait, unsur kecamatan, serta pemerintah desa. Keterlibatan lintas sektor mencerminkan pendekatan kolaboratif yang terus didorong Pemkab Tabanan. (bgn020)25122219