Denpasar, Baliglobalnews
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan kinerja perekonomian Bali pada Triwulan II Tahun 2026 tumbuh positif 5,78% (yoy), melampaui rata-rata nasional.
“Hal ini didukung dengan Inflasi Bali pada Agustus 2026 sebesar 3,45% (yoy) atau masih terjaga dalam kisaran target, yang berperan penting dalam menjaga daya beli masyarakat guna mendukung pertumbuhan ekonomi Bali,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani di Denpasar pada Jumat (11/9/2026).
Dia memerkirakan ke depan perekonomian Bali tetap tumbuh kuat pada kisaran 5,4%–5,9% dengan dua tantangan fundamental yang memerlukan perhatian bersama, yaitu ketergantungan sektoral yang masih terkonsentrasi pada sektor tersier/pariwisata, sehingga rentan terhadap gejolak eksternal, dan konsentrasi investasi dan aktivitas ekonomi yang masih didominasi wilayah Bali Selatan (Sarbagia).
Sebelumnya, Bank Indonesia Bali menggelar forum dialog strategis Balinomics di Legian Bali, yang mempertemukan unsur pemerintah daerah, otoritas moneter, akademisi, perbankan, asosiasi industri, pelaku UMKM, hingga Majelis Desa Adat untuk merumuskan langkah konkret dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Bali yang berdaya tahan, inklusif dan berkelanjutan.
Forum Balinomics tersebut dirangkaikan dengan penyerahan Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Bali Triwulan II 2026 dari Bank Indonesia kepada Pemerintah Provinsi Bali serta penyaluran bantuan sarana dan prasarana pertanian serta perikanan bagi kelompok subak dan nelayan lokal. Penyampaian LPP Triwulan II-2026 serta sarana dan prasarana tersebut merupakan salah satu bentuk advisory Bank Indonesia kepada pemerintah daerah serta dukungan Bank Indonesia terhadap sektor pertanian dan perikanan Bali.
Hal senada dikatakan Koordinator Kelompok Ahli Bidang Pembangunan Pemerintah Provinsi Bali I Made Damriyasa menegaskan arah Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun (Perda No. 4 Tahun 2023) dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali.
Dia menekankan bahwa transformasi ekonomi pascapandemi Covid-19 menuntut keterhubungan 6 sektor unggulan yakni pertanian dalam arti luas, kelautan/perikanan, industri manufaktur, IKM/UMKM/koperasi, ekonomi kreatif dan digital, serta pariwisata. “Yang dibangun bukan sekadar diversifikasi sektor, tetapi keterhubungan antarsektor,” katanya.
Sementara Ketua BPD PHRI Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk membangun paradigma Pariwisata untuk Bali, bukan Bali untuk pariwisata.
Cok Ace yang pernah menjadi Wakil Gubernur Bali periode 2018-2023 itu menilai, perlunya menata daya dukung lingkungan (carrying capacity), mengatasi masalah sampah terpadu (seperti proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik / PSEL), serta mendorong rantai pasok lokal agar kebutuhan hotel dan restoran menyerap hasil pertanian dan produk UMKM Bali.
Pria yang akrab disapa Cok Ace ini menekankan transformasi harus berjalan serentak pada tiga pilar yakni,pemerintah (kebijakan terkoordinasi dan tata ruang berakar budaya), pelaku usaha (fokus pada value bukan sekadar volume), dan masyarakat/desa adat sebagai subjek aktif pembangunan. (bgn008)26091108