Denpasar, Baliglobalnews
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit UMKM di Pulau Dewata mencapai 50,47% dari total kredit yang ada di Bali.
“Pertumbuhannya sebesar 6,41% lebih tinggi bandingkan dengan posisi Juli 2025 yang hanya 3,15%,” kata Kepala OJK Provinsi Bali, Parjiman, di Denpasar.
Berdasarkan skemanya, kata dia, didominasi untuk kredit usaha mikro sebesar 41,78%, kemudian usaha kecil 38,60% dan untuk usaha menengah sebesar 19,62%. Kredit berdasarkan jenis penggunaannya didominasi oleh kredit investasi dengan porsi 37,01%. Angka ini tumbuh signifikan dari sebelumnya 13,61% menjadi 23,25% (you). “Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh sektor akmamin (akomodasi dan makan minum). Kredit modal kerja justru sejalan dengan nasional yang mengalami kontraksi sebesar -2,67% (you) terutama akibat penurunan pada sektor perdagangan,” katanya.
Dia menyebutkan penyaluran kredit di Bali dimana sektor akmamin, pertanian dan jasa kemasyarakatan mencatatkan pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan Juli tahun lalu. Kemudian kredit Perdagangan dan Lapangan Usaha cenderung melandai. “Hal ini mengindikasikan ada perubahan porsi kredit ke sektor riil yang lebih produktif,” katanya.
Kepala Direktorat Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK Provinsi Bali Adityo Pamudji menambahkan bahwa industri perbankan di Provinsi Bali hingga Juli 2026 masih tumbuh positif, meskipun laju pertumbuhannya di bawah rata-rata nasional. Dimana secara nasional, aset perbankan tumbuh 11,73% sedangkan di lokasi bank hanya 4,73% dan di lokasi kantor pusat (Bank BPD dan BPR) tumbuh 4,86%.
“Demikian halnya pada kredit, baik di lokasi bank maupun lokasi proyek tumbuh lebih tinggi dibandingkan posisi tahun lalu, yakni masing-masing 7,91% dan 10,03%,” katanya. (bgn008)26091710