Denpasar, Baliglobalnews
Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA/P3A) Provinsi Bali telah memulangkan 326 orang telantar ke daerah asalnya selama tahun 2025.
Kabid Rehabilitasi Sosial Dinsos P3A Bali Ni Putu Yuni menyampaikan pemulangan orang telantar tersebut telah bekerja sama melalui nota kesepahaman (MoU) dengan beberapa provinsi, dimana biaya pemulangan ditanggung penuh Pemerintah Provinsi Bali. “Setiap orang difasilitasi biaya transportasi bus sebesar Rp300 ribu, termasuk makan dan minum selama perjalanan. Travel sudah menanggung makan dan minum, kami tidak memberikan uang saku,” katanya.
Dia menyebutkan orang telantar yang dipulangkan berasal dari berbagai daerah di Indonesia, yakni Nusa Tenggara Timur (NTT), Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur. Sebagian besar orang telantar tersebut, awalnya dijanjikan bekerja menjadi anak buah kapal di Pelabuhan Benoa atau bekerja sebagai tukang. Namun, mereka mengaku tidak menerima upah sesuai janji. “Sebelum dipulangkan, kami lakukan pemeriksaan kesehatan. Jika sakit, mereka dirawat terlebih dahulu di rumah sakit pemerintah,” katanya.
Untuk data Dinsos P3A Bali, sejak awal hingga 26 Januari tahun 2026, jumlah pemulangan orang telantar sudah mencapai 12 orang.
Menurut dia, jumlah orang telantar yang dipulangkan dari Bali cenderung menurun dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan penerapan kebijakan pemulangan yang dilakukan secara selektif. “Tidak ada yang kami pulangkan dua kali dalam satu tahun. Jika modusnya datang ke Bali untuk berlibur lalu mengaku kehabisan bekal, itu hanya bisa difasilitasi satu kali dalam setahun,” katanya.
Untuk memastikan hal tersebut, Dinsos P3A Bali melakukan pendataan secara ketat. Bagi orang telantar yang tidak membawa identitas, dilakukan penelusuran data melalui Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil). “Kami cek identitas dan mencocokkan rekam pemulangannya setahun terakhir. Kalau sudah pernah difasilitasi, maka tidak kami layani lagi,” ujarnya.
Upaya ini untuk menekan jumlah pemulangan orang telantar, sekaligus mematahkan anggapan bahwa Bali mudah memfasilitasi pemulangan bagi pendatang yang kehabisan bekal. “Informasi dari mulut ke mulut yang menyebutkan kalau kehabisan bekal di Bali akan mudah dipulangkan oleh Dinsos, sekarang sudah tidak bisa lagi,” katanya.
Terkait anak punk dari Jawa yang cukup banyak datang ke Bali, pada tahun 2025 pemulangan anak punk menurun. Hal tersebut tidak terlepas dari peran Satpol PP yang lebih dahulu melakukan pembinaan sebelum Dinsos memfasilitasi pemulangan, sehingga menimbulkan efek jera.
Selain itu, kata dia, Dinsos P3A Bali juga memberikan pembinaan, serta menerbitkan surat keterangan telantar dan surat keterangan sehat sebelum proses pemulangan dilakukan. (bgn008)26012711