BI Bali Waspadai Inflasi Jelang Nyepi dan Idul Fitri

Denpasar, Baliglobalnews

Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, bersama TPID Bali, mewaspadai lonjakan permintaan sejumlah permintaan komoditas pangan, menjelang Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri, pada Maret 2026.

“Kami bersinergi dengan TPID untuk melakukan stabilitas harga komoditas pangan, khususnya beras, hortikultura, dan daging ayam ras,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja pada Rabu (4/3/2026).

Dia menyatakan dalam mengantisipasi potensi peningkatan tekanan inflasi, Bank Indonesia Provinsi Bali terus memperkuat sinergi dan inovasi bersama Pemerintah Provinsi dan kabupaten/kota se-Bali, yang difokuskan pada tiga pilar utama, yaitu menjaga stabilitas pasokan, meningkatkan efisiensi distribusi, serta memperkuat aspek regulasi. 

Strategi tersebut, kata dia, diimplementasikan utamanya melalui intensifikasi operasi pasar dengan kaidah 3T (tepat waktu, tepat lokasi, dan tepat sasaran), penguatan kerja sama antar daerah baik intra-Bali maupun luar Bali, dan perluasan ekosistem ketahanan pangan hulu-hilir yang inklusif.

Selain itu, kata dia, juga melibatkan BUMDes, Perumda pangan, dan koperasi, yang diperkuat melalui regulasi pemanfaatan produk pangan lokal oleh pelaku usaha di daerah. Dengan langkahlangkah strategis tersebut, inflasi tahun 2026 diprakirakan terjaga dalam sasaran 2,5%±1%. “Ke depan, beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain tingginya permintaan barang dan jasa pada periode HBKN Nyepi dan Idul Fitri serta berlanjutnya kenaikan harga emas dunia,” ucapnya.

Dia menyampaikan puncak musim hujan juga berisiko menyebabkan produksi pertanian kurang optimal, gangguan distribusi, dan meningkatkan risiko penyakit hewan ternak, serta gelombang tinggi yang berpotensi menahan produksi perikanan.

Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali pada 2 Maret 2026 mencatatkan bahwa, secara bulanan Provinsi Bali, pada Februari 2026 mengalami inflasi sebesar 0,70% (mtm), setelah bulan sebelumnya mengalami deflasi sebesar -0,34% (mtm).

Kenaikan inflasi bulanan utamanya didorong oleh kenaikan permintaan jelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) sesuai pola historis, serta berlanjutnya kenaikan harga emas dunia. Secara tahunan, inflasi Provinsi Bali meningkat dari 2,58% (yoy) pada Januari 2026 menjadi 3,89% (yoy). Kenaikan inflasi tahunan utamanya didorong faktor base effect diskon tarif listrik yang berlaku pada 2025, sehingga bersifat temporer.  

Secara spasial, seluruh kabupaten/kota IHK di Bali mengalami inflasi bulanan pada Februari 2026. Kabupaten Badung mengalami inflasi bulanan tertinggi sebesar 1,04% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,06 % (yoy), diikuti Singaraja dengan inflasi bulanan sebesar 0,77% (yoy) atau inflasi tahunan sebesar 4,23% (yoy), selanjutnya Kota Denpasar mengalami inflasi bulanan sebesar 0,57% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 4,33% (yoy). Lebih lanjut Tabanan mengalami inflasi bulanan sebesar 0,48% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,57% (yoy). (bgn008)26030413

BIBaliharirayaidulfitriharirayanyepi
Comments (0)
Add Comment