Limbah Batok Kelapa Penebel Disulap Jadi Tempat Tirta Estetik, Tembus Pasar Horeka Luar Bali
Singasana, Baliglobalnews
Kerajinan tempurung kelapa mungkin sudah biasa. Namun di tangan Wayan Erik Arnata, limbah batok kelapa bertransformasi menjadi sarana ritual yang estetik dan sarat nilai seni. Melalui brand Kau Amplas Bali, perajin asal Desa Pitra, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan ini berhasil menembus pasar perlengkapan upacara di Bali hingga merambah pasar luar daerah.
Ditemui dalam ajang Pasar Rakyat PKK Provinsi Bali di Gedung Kesenian I Ketut Marya, Kabupaten Tabanan, pada Jumat (10/4/2026), Erik yang juga dikenal sebagai seorang musisi ini membagikan kisah inovasinya.

Berbeda dengan perajin tempurung kelapa pada umumnya yang fokus pada produk rumah tangga seperti mangkuk atau gayung, Erik melihat peluang besar pada aktivitas ritual keagamaan masyarakat Bali. “Produk yang saya buat tidak saja memiliki fungsi sebagai peralatan rumah tangga, namun juga berfungsi sebagai sarana ritual, salah satunya adalah tempat tirta,” ujarnya.

Produk tempat tirta buatannya hadir dalam beragam model, mulai dari pemanfaatan setengah batok kelapa hingga batok kelapa utuh yang dihiasi dengan ukiran khas Bali yang rumit. Keunikan inilah yang membuat produknya diminati banyak orang.
Menurut Erik, permintaan pasar terhadap tempat tirta “Kau Amplas Bali” tergolong sangat tinggi, terutama dari wilayah Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Erik mengaku mampu mengirimkan puluhan unit tempat tirta setiap minggunya. “Permintaan terbanyak adalah tempat tirta setengah batok kelapa. Biasanya pesanan datang dari toko perlengkapan upacara maupun perorangan,” katanya.
Meskipun sudah memiliki pasar yang tetap, yakni toko-toko perlengkapan upacara, dia mengaku juga memiliki kendala. Salah satunya adalah pasokan bahan baku yang menurutnya sulit didapat. Pasalnya, jenis kelapa yang digunakan adalah batok kelapa yang tebal, dan batok kelapa jenis ini disebutkannya hanya tumbuh di Kecamatan Penebel dan populasi pohonnya pun tidak banyak. “Karena itu, kami di bengkel kerja tidak bisa memproduksi produk kerajinan ini setiap hari, kami hanya memproduksi ketika bahan baku sudah ada. Itupun proses pengerjaannya masih memakan waktu dua sampai tiga hari per buahnya,” ungkapnya.
Dia menyebutkan karena masih dikerjakan secara manual yakni mengukir sendiri batok kelapa menggunakan alat ukir konvensional, harga produk Kau Amplas Bali ditentukan berdasarkan tingkat kesulitan ukirannya.
Untuk harga, kata dia, mulai dari Rp145 ribu sampai dengan Rp300 ribuan untuk satu buah tempat tirta. Sedangkan untuk mangkok sup kecil, harganya mulai dari Rp25 ribu sampai dengan Rp35 ribu. “Untuk mangkok sup ini, biasanya kami melayani permintaan dari luar Bali, khususnya dari pasar Horeka yang menerapkan konsep eco-friendly living dalam usahanya,” pungkasnya. (bgn020)26041012




