Cuaca Ekstrem Sasih Kaulu, Bupati Sanjaya Ajak Masyarakat Tabanan Perkuat Nilai Tri Hita Karana
Tabanan, Baliglobalnews
Embusan angin barat yang kian kencang disertai hujan lebat dan gelombang tinggi kini tengah menyelimuti wilayah Kabupaten Tabanan. Bagi masyarakat adat setempat, kondisi ini bukanlah sekadar anomali cuaca, melainkan isyarat alam yang lazim hadir setiap memasuki Sasih Kaulu, sebuah fase penting dalam kalender Bali menjelang pergantian Tahun Baru Saka.
Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya menegaskan bahwa fenomena alam yang terjadi pada Sasih Kaulu harus disikapi dengan kesadaran dan kebijaksanaan bersama. “Sasih Kaulu mengajarkan kita untuk lebih peka terhadap tanda-tanda alam. Pemerintah mengimbau masyarakat Tabanan agar meningkatkan kewaspadaan, terutama dalam beraktivitas di laut, sektor pertanian, dan kegiatan lain yang berisiko terdampak cuaca ekstrem,” ujar Bupati Sanjaya pada Selasa (20/1/2026).
Bupati juga menekankan pentingnya menjaga keharmonisan antara manusia dan alam yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat Tabanan. “Nilai-nilai Tri Hita Karana mengajarkan bahwa keseimbangan alam adalah bagian dari kesejahteraan masyarakat. Fenomena ini menjadi pengingat agar kita tidak bersikap abai, melainkan terus menjaga keselarasan dengan alam,” katanya.
Bupati Sanjaya mengajak masyarakat menjadikan Sasih Kaulu sebagai momentum refleksi bersama menjelang pergantian Tahun Saka. “Menjelang Nyepi, mari kita persiapkan diri secara lahir dan batin. Tidak hanya melalui pelaksanaan ritual adat, tetapi juga dengan memperkuat perilaku hidup yang bijaksana dan bertanggung jawab terhadap lingkungan,” tegasnya.
Di tengah tantangan perubahan iklim global saat ini, pemaknaan Sasih Kaulu menjadi semakin relevan bagi masyarakat Tabanan. Kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun telah lama mengajarkan bahwa alam selalu memberi tanda, dan manusia dituntut untuk peka membaca serta merespons isyarat tersebut dengan kesadaran kolektif.
Sasih Kaulu bukan sekadar hitungan bulan adat, melainkan momentum refleksi bersama agar hubungan antara manusia, alam, dan spiritualitas kembali berada dalam satu keseimbangan. Sebuah pengingat bagi masyarakat Tabanan untuk menata kembali harmoni kehidupan, sebelum memasuki lembaran baru Tahun Saka melalui perayaan Nyepi yang sarat makna kesunyian dan introspeksi. (*/bgn020)26012111