MBG Picu Penurunan Omzet Pengelola Kantin Sekolah di Tabanan Hingga 30 Persen
Tabanan, Baliglobalnews
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai masif bergulir di Kabupaten Tabanan memicu fenomena dua sisi. Di satu pihak, para siswa menyambut antusias menu sehat yang disajikan. Namun di pihak lain, para pengelola kantin sekolah mulai mengeluh akibat penurunan pendapatan yang signifikan.
Berdasarkan pantauan di SDN 1 Babahan dan SMAN 1 Penebel, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, pada Kamis (15/1/2026) menunjukkan bahwa kehadiran MBG ini secara langsung mengubah pola konsumsi siswa di sekolah.

Pengelola kantin SDN 1 Babahan I Made Atmaja (45), mengaku omzetnya tergerus hingga 30 persen sejak program MBG dimulai November tahun lalu. Dengan beban sewa tempat Rp5 juta per tahun, dia kini hanya mampu mengantongi pendapatan sekitar Rp350.000 per hari. “Anak-anak sekarang lebih banyak beli susu atau camilan saja. Untuk makan besar sudah terpenuhi dari sekolah,” ujarnya.

Atmaja juga mengaku tidak dilibatkan dalam perencanaan menu makanan MBG, dan hanya mendapat arahan terkait makanan sehat dari pihak Puskesmas.
Kondisi yang lebih drastis dialami oleh pengelola kantin di SMAN 1 Penebel, Gusti Suardana (70). Sejak program MBG dimulai di sekolah tersebut pada Senin (12/1/2026), dia mencatat penurunan omzet mencapai 35 persen.
Suardana merinci, sebelum adanya MBG, dia bisa mengantongi pendapatan rata-rata di atas Rp1,5 juta per hari. Namun kini, angkanya merosot tajam menjadi di bawah Rp1 juta. “Dulu kalau pagi-pagi anak-anak itu lumayan sarapan nasi. Sekarang karena mungkin MBG, mungkin hanya jajan-jajan gini, camilan hanya seribuan,” keluhnya.
Dia menambahkan bahwa siswa cenderung menunggu jatah makan siang gratis pada jam 12.00, sehingga penjualan nasi di kantin menjadi kurang laku. Padahal, dia harus menyetor retribusi ke provinsi Rp700.000 per tahun.
Di sisi lain, Kepala SDN 1 Babahan Ni Wayan Ratnadi menyatakan bahwa program MBG yang berjalan sejak 1 November 2025 ini disambut antusias oleh para peserta didik. Dari total 68 murid, mayoritas memberikan respon positif. “Ke anak-anak hampir 98 persen suka. Tapi ada beberapa anak (dua orang) yang kurang suka makan nasi dari rumahnya, jadi yang dimakan daging dan buah saja,” katanya.
Terkait menu, Ratnadi menyampaikan bahwa variasi makanan terus ditingkatkan. Menu lauk pauk didominasi oleh ayam, telur, abon, tahu, dan tempe. Penggunaan ikan jarang dilakukan karena rentan rusak. “Abonnya lumayan banyak. Sekarang ayam dikombinasi dengan tahu atau tempe. Buahnya juga lumayan enak, jeruknya manis, kadang melon kupas atau anggur besar,” katanya.
Meskipun kantin sekolah mengalami penurunan omset pada penjualan makanan berat, Ratnadi menyebut jajanan tradisional di kantin sekolah masih tetap diminati siswa pada pagi hari.
Persoalan ini memunculkan aspirasi agar kedepannya pengelola kantin lokal dapat dilibatkan dalam rantai penyediaan menu MBG. Hal ini diharapkan agar program penguatan gizi nasional dapat berjalan beriringan dengan keberlangsungan ekonomi kecil di lingkungan sekolah. (bgn020)26011503




