UNR Bersama Institut Kapal Perempuan Gelar Konferensi Internasional di Denpasar
Denpasar, Baliglobalnews
Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (Fishum) Universitas Ngurah Rai (UNR) bersama Institut Kapal Perempuan, Yayasan Bali Sruti, dan Forum Kajian gender Bali, menggelar konferensi internasional bertema “The 1st International Conference Public Policy, Gender Equality, Disability, and Social Inclusion: Towards the Achievement of the 2030 SDGs”.
Direktur Institut Kapal Perempuan Budhis Utami mengharapkan konferensi ini dapat menghimpun seluruh pemikiran dan pengetahuan yang berasal dari pengalaman perjuangan perempuan, disabilitas dan kelompok marginal dari berbagai wilayah untuk untuk keadilan dan kesetaraan gender. “Ini tantangan di Indonesia sampai sekarang masih kuat. Karena, budaya patriarki yang masih kuat, keberagaman Indonesia terpecah-pecah masih tinggi. Kemudian, kebijakan yang sudah ada menjamin keadilan, kesetaraan dan keberagaman belum dijalankan dengan baik,” katanya di Denpasar pada Rabu (17/12/2025).
Dia menyampaikan konferensi akan membahas sejauh mana kebijakan tersebut mampu mempengaruhi perubahan, keadilan dan kesetaraan untuk semua kalangan terutama kaum perempuan dan kelompok miskin yang dimarjinalkan. “Bagaimana advokasi kita di tingkat global diarahkan untuk bergerak bersama mempengaruhi dari tingkat global untuk kesetaraan gender dan inklusif di negara kita dan negara-negara lain. Demokrasi dan kemajuan suatu negara tidak akan terjadi jika tidak ada kesetaraan gender serta tidak ada penghargaan terhadap keberagaman identitas di Indonesia,” ucapnya.
Dalam konferensi internasional ini, kata dia, akan mempresentasikan tujuh puluh artikel yang dibagi menjadi beberapa tema di antaranya kebijakan sosial dan kultural, kebijakan global melalui Sustainable Development Goals (SDGs), kepemimpinan perempuan serta reformasi kebijakan. Konferensi ini turut dihadiri oleh sejumlah negara, meliputi Malaysia, India, Australia dan Rusia.
Sementara Rektor Universitas Ngurah Rai Ni Putu Tirka Widanti menyatakan kesetaraan gender tidak hanya berkaitan dengan kaum perempuan, melainkan juga kaum laki-laki, sehingga keduanya setara.
“Bagaimana kesetaraan gender itu bisa diupayakan setara mungkin. Kami juga berharap konferensi internasional ini tidak berhenti sampai disini saja, tapi bisa berlanjut kedepannya,” katanya.
Dia menyatakan percepatan perubahan sosial-budaya, ekonomi, politik, dan ekologis di tingkat global dan nasional menunjukkan urgensi kebijakan publik yang mampu menjangkau kelompok marginal, termasuk perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya. Untuk itulah konferensi internasional ini digelar. (bgn008)25171205