<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>tradisimakotek &#8211; Bali Global News</title>
	<atom:link href="https://baliglobalnews.com/tag/tradisimakotek/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://baliglobalnews.com</link>
	<description>Media Informasi Masyarakat</description>
	<lastBuildDate>Sun, 27 Sep 2020 04:30:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7.7</generator>

<image>
	<url>https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2021/07/wp-1627174163123-100x100.jpg</url>
	<title>tradisimakotek &#8211; Bali Global News</title>
	<link>https://baliglobalnews.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Desa Adat Munggu Tetap Gelar Tradisi &#8220;Makotek&#8221; , Peserta Dibatasi</title>
		<link>https://baliglobalnews.com/desa-adat-munggu-tetap-gelar-tradisi-makotek-peserta-dibatasi/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=desa-adat-munggu-tetap-gelar-tradisi-makotek-peserta-dibatasi</link>
					<comments>https://baliglobalnews.com/desa-adat-munggu-tetap-gelar-tradisi-makotek-peserta-dibatasi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[dev]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Sep 2020 04:30:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Badung]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[desaadatmunggu]]></category>
		<category><![CDATA[makotekmunggu]]></category>
		<category><![CDATA[protokolkesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[tradisimakotek]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://baliglobalnews.com/?p=9303</guid>

					<description><![CDATA[<div style="margin-bottom:20px;"><img width="544" height="720" src="https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2020/09/makotek.jpg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2020/09/makotek.jpg 544w, https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2020/09/makotek-227x300.jpg 227w" sizes="(max-width: 544px) 100vw, 544px" /></div>Badung, Baliglobalnews Makotek&#160;atau&#160;Ngrebeg&#160;yang menjadi tradisi warga masyarakat di Desa Adat Munggu, Kecamatan Mengwi, Badung, tetap digelar pada Hari Raya Kuningan, Sabtu (26/9). Pandemi Covid-19 tak menyurutkan warga Desa Adat Munggu untuk menggelar tradisi yang sudah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda oleh Kemendikbud pada tahun 2016 lalu. Hanya, ada sedikit perbedaan pelaksanaan makotek yang dilaksanakan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div style="margin-bottom:20px;"><img width="544" height="720" src="https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2020/09/makotek.jpg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" srcset="https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2020/09/makotek.jpg 544w, https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2020/09/makotek-227x300.jpg 227w" sizes="(max-width: 544px) 100vw, 544px" /></div>
<p>Badung, Baliglobalnews</p>



<p><em>Makotek</em>&nbsp;atau&nbsp;<em>Ngrebeg</em>&nbsp;yang menjadi tradisi warga masyarakat di Desa Adat Munggu, Kecamatan Mengwi, Badung, tetap digelar pada Hari Raya Kuningan, Sabtu (26/9). Pandemi Covid-19 tak menyurutkan warga Desa Adat Munggu untuk menggelar tradisi yang sudah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda oleh Kemendikbud pada tahun 2016 lalu.</p>



<p>Hanya, ada sedikit perbedaan pelaksanaan makotek yang dilaksanakan pada Hari Suci Kuningan ini. Pasalnya, bagaimana pun, prosesi yang melibatkan banyak orang tersebut harus mengikuti situasi dan kondisi yang ada, yakni protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19.</p>



<p>Menurut Jro Bendesa Desa Adat Munggu, I Made Rai Sujana, S.H., tradisi&nbsp;<em>makotek</em>&nbsp;yang diselenggarakan pada Hari Raya Kuningan ini mengikuti aturan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. &#8221;Peserta dibatasi, hanya puluhan orang pemuda&nbsp;<em>lanang</em>&nbsp;dari perwakilan 12 banjar adat. Beda kalau sebelumnya, yang mencapai ribuan orang,&#8221; kata Jro Bendesa, Minggu (27/9).</p>



<p>Jro Bendesa mengaku khawatir adanya pandemi Covid-19. Akan tetapi, lebih khawatir lagi kalau&nbsp;<em>makotek</em>&nbsp;tidak diselenggarakan. Pasalnya, kata dia, Belanda ketika masih menjajah, pernah melarang penyelenggraan&nbsp;<em>makotek</em>.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" width="271" height="513" src="https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2020/09/sujana-rai.jpg" alt="" class="wp-image-9304" srcset="https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2020/09/sujana-rai.jpg 271w, https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2020/09/sujana-rai-158x300.jpg 158w" sizes="(max-width: 271px) 100vw, 271px" /><figcaption>Baliglobalnews/ist <br>I Made Rai Sujana , Bendesa Adat Munggu.</figcaption></figure></div>



<p>&#8221;<em>Makotek</em>&nbsp;dulu pakai bambu runcing, sehingga membuat Belanda. Dampaknya, desa kami kena&nbsp;<em>grubug</em>. Banyak warga yang sakit dan tak bisa diobati, akhirnya banyak warga yang meninggal,&#8221; katanya.</p>



<p>Rai menyebutkan pelaksanaa makotek saat ini dilaksanakan secara&nbsp;<em>sekala-niskala</em>. &#8221;Secara&nbsp;<em>sekala</em>&nbsp;kita melaksanakan&nbsp;<em>makotek</em>&nbsp;dengan menerapkan protokol kesehatan, dan secara&nbsp;<em>niskala</em>&nbsp;justru makotek ini dimaksudkan sebagai penolak bala, penolak virus, termasuk virus Corona yang sedang mewabah. Semoga lewat tradisi ini, Covid-19 cepat sirna,&#8221; katanya.</p>



<p>Rai menuturkan sejarah tradisi makotek merupakan warisan tak benda yang sudah di sertifikatkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 20016. Tradisi makotek bermula dari pada masa kejayaan&nbsp;Kerajaan Mengwi, pada masa pemerintahan Tjokorda Nyoman&nbsp;Sakti&nbsp;Munggu yang memerintah pada tahun 1.700.</p>



<p>Pada&nbsp;saat itu,&nbsp;Kerajaan Mengwi ingin mempertahankan kekuasaan di Jawa&nbsp;Timur yang diserang musuh. Raja Mengwi mengutus pasukan bala tentaranya yang berasal dari&nbsp;Desa&nbsp;Munggu untuk berangkat ke Jawa timur. Sebelum berangkat, pasukan yang langsung dipimpin Tjokorda Nyoman Sakti Munggu, Raja Mengwi yang ketiga itu, bersemedi di Pura Dalem Kahyangan Wisesa, Desa Adat Munggu. Ketika bersemedi itu&nbsp;bertepatan dengan&nbsp;Hari&nbsp;Raya Kuningan atau&nbsp;Tumpek Kuningan. Karena itu, tradisi&nbsp;<em>makotek&nbsp;</em>di Desa Adat Munggu selalu diperingati setiap Hari Raya Kuningan yang jatuhnya setiap 6 bulan&nbsp;(kalender Bali)&nbsp;sekali.</p>



<p>Tradisi makotek, kata dia, mempunyai makna penolak bala (mengusir roh-roh jahat yang ingin mengganggu masyarakat Desa adat Munggu), ini terbukti pada zaman kolonial penjajahan Belanda, tradisi&nbsp;<em>mekotek</em>&nbsp;pernah dilarang, karena dikira akan melakukan perlawanan terhadap penjajah. Apa yang terjadi? Desa Munggu terkena wabah penyakit (grubug) yang tdak bisa disembuhkan bahkan sampai meninggal, dengan negosiasi para tokoh adat dan agama pada saat itu kepada penjajah, maka diperbolehkan tradisi itu dilakukan kembali tapi tombak diganti dengan memakai sebatang kayu (kayu pulet) yang panjangnya 3,5 meter.</p>



<p>Tradisi itu masih dilaksanakan sampai sekarang mengelilingi wilayah Desa Adat Munggu.&nbsp;Pelaksanaannya&nbsp;di setiap pertigaan atau perempatan dengan mengumpulkan kayu yang dibawa para pemuda dan masyarakat tersebut menyerupai kerucut atau gunung,&nbsp;sehingga terdengar suara&nbsp;<em>tak&nbsp;</em><em>t</em><em>ek tak tek</em><em>.</em>&nbsp;Di sanalah dipercaya tempat berkumpulnya roh-roh jahat.</p>



<p>Di samping itu, tradisi&nbsp;<em>makotek</em>&nbsp;juga memiliki makna penghormatan bagi jasa para pahlawan yang telah berjuang mempertahankan wilayah kekuasaan Kerajaan Mengwi.</p>



<p>Tradisi <em>makotek</em> juga sebagai alat untuk mempersatukan para kaum pemuda yang terdiri dari 12 banjar adat. &#8221;Di sinilah para pemuda bisa melaksanakan kegiatan yang positif, dan menjauhkan sifat negatif seperti narkoba, kebut-kebutan. Secara tidak langsung kegiatan makotek ini menjadi alat pemersatu para pemuda yang ada di Desa dat Munggu.(bgn122)20092712</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://baliglobalnews.com/desa-adat-munggu-tetap-gelar-tradisi-makotek-peserta-dibatasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
