<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gayahidup &#8211; Bali Global News</title>
	<atom:link href="https://baliglobalnews.com/tag/gayahidup/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://baliglobalnews.com</link>
	<description>Media Informasi Masyarakat</description>
	<lastBuildDate>Mon, 07 Jun 2021 02:35:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7.7</generator>

<image>
	<url>https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2021/07/wp-1627174163123-100x100.jpg</url>
	<title>gayahidup &#8211; Bali Global News</title>
	<link>https://baliglobalnews.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tips aman saat anak kembali belajar tatap muka di sekolah</title>
		<link>https://baliglobalnews.com/tips-aman-saat-anak-kembali-belajar-tatap-muka-di-sekolah/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=tips-aman-saat-anak-kembali-belajar-tatap-muka-di-sekolah</link>
					<comments>https://baliglobalnews.com/tips-aman-saat-anak-kembali-belajar-tatap-muka-di-sekolah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Gusde]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Jun 2021 02:35:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[belajartatapmuka]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[gayahidup]]></category>
		<category><![CDATA[sekolahtatapmuka]]></category>
		<category><![CDATA[tipsaman]]></category>
		<category><![CDATA[WHO]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://baliglobalnews.com/?p=31464</guid>

					<description><![CDATA[<div style="margin-bottom:20px;"><img width="800" height="533" src="https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2021/06/Screenshot_2021-06-07-06-57-09-59_copy_1028x685.jpg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2021/06/Screenshot_2021-06-07-06-57-09-59_copy_1028x685.jpg 800w, https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2021/06/Screenshot_2021-06-07-06-57-09-59_copy_1028x685-300x200.jpg 300w, https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2021/06/Screenshot_2021-06-07-06-57-09-59_copy_1028x685-768x512.jpg 768w, https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2021/06/Screenshot_2021-06-07-06-57-09-59_copy_1028x685-450x300.jpg 450w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /></div>Nasional, Baliglobalnews Sekolah tatap muka akan diberlakukan mulai tahun ajaran baru, meski keputusan tersebut akan dikembalikan kepada orangtua setidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat anak datang ke sekolah. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan dari jumlah total penderita COVID-19 di seluruh dunia, sebanyak 8,5 persen merupakan anak-anak berusia di bawah 18 tahun. Angka kematiannya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div style="margin-bottom:20px;"><img width="800" height="533" src="https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2021/06/Screenshot_2021-06-07-06-57-09-59_copy_1028x685.jpg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" srcset="https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2021/06/Screenshot_2021-06-07-06-57-09-59_copy_1028x685.jpg 800w, https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2021/06/Screenshot_2021-06-07-06-57-09-59_copy_1028x685-300x200.jpg 300w, https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2021/06/Screenshot_2021-06-07-06-57-09-59_copy_1028x685-768x512.jpg 768w, https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2021/06/Screenshot_2021-06-07-06-57-09-59_copy_1028x685-450x300.jpg 450w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /></div>
<p>Nasional, Baliglobalnews</p>



<p>Sekolah tatap muka akan diberlakukan mulai tahun ajaran baru, meski keputusan tersebut akan dikembalikan kepada orangtua setidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat anak datang ke sekolah.</p>



<p>Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan dari jumlah total penderita COVID-19 di seluruh dunia, sebanyak 8,5 persen merupakan anak-anak berusia di bawah 18 tahun. Angka kematiannya pun lebih sedikit dan biasanya gejalanya lebih ringan namun tetap ada laporan pasien anak-anak yang kritis.</p>



<p>Sejumlah penelitian terbatas yang dilakukan oleh sejumlah negara mendapati risiko anak tertular COVID-19 lebih kecil ketimbang orang dewasa. Anak yang diteliti antara lain yang berumur di bawah 18 tahun, 15 tahun, dan 9 tahun, namun berbeda dengan anak usia di bawah 1 tahun, risiko terkena COVID-19 lebih besar.</p>



<p>dr&nbsp;Tuty Mariana, SpA, Dokter Spesialis Anak Primaya Hospital Bekasi Timur mengatakan hingga saat ini, sejumlah kluster muncul di sekolah-sekolah di berbagai negara karena biasanya gejala pada anak lebih sedikit dan sakitnya tidak terlalu parah, kasus positif kadang tak terdeteksi.</p>



<p>Data studi awal pun menunjukkan tingkat penularan di kalangan remaja lebih tinggi ketimbang pada anak berusia lebih muda.</p>



<p>&#8220;Yang pasti, kesadaran anak untuk menerapkan protokol kesehatan secara umum lebih rendah ketimbang orang dewasa. Hal ini bisa menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi peran anak-anak dalam penularan COVID-19 di sekolah,&#8221; ujar dr&nbsp;Tuty dalam keterangan resminya pada Senin.</p>



<p>Sementara itu, spesialis dokter anak dr Ria Yoanita, SpA dari Primaya Evasari Hospital mengatakan ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh orangtua dan pihak sekolah saat memulai pembelajaran tatap muka.</p>



<p><strong>Cek kondisi kesehatan</strong><br>dr Ria mengatakan hal pertama yang harus dilakukan adalah mengecek secara berkala kondisi kesehatan anak dengan mengukur suhu tubuh anak setiap hari.</p>



<p>Akan lebih baik lagi jika ada<em>&nbsp;thermo gun</em>&nbsp;yang lebih cepat menampilkan hasil pengukuran suhu tanpa bersentuhan dengan permukaan kulit. Jika suhu tubuh anak di atas batas, batuk, dan sesak napas sebaiknya minta izin untuk tetap di rumah.</p>



<p><strong>Ajari praktik kebersihan</strong><br>Anak juga perlu diajarkan praktik kebersihan meski kebanyakan sering abai. Orangtua bisa mengajari anak mencuci tangan sambil menyanyi dengan durasi sekitar 20 detik. Pilih lagu kesukaan anak agar hatinya senang saat mencuci tangan. Membawa air minum dan peralatan makan sendiri dari rumah serta</p>



<p><strong>Membuang sampah pada tempatnya</strong><br>Situasi pandemi membuat ajaran buang sampah dengan benar ini kian mendesak untuk diterapkan. Ajari anak cara mengenakan masker yang benar dan ingatkan untuk merusak masker dulu sebelum membuangnya agar tidak digunakan ulang.</p>



<p><strong>Etika batuk dan bersin</strong><br>WHO memperingatkan agar semua orang menerapkan etika batuk dan bersin, yakni tidak melepas masker saat bersin atau batuk karena masker dapat menahan percikan.</p>



<p>Segera buang masker dan ganti dengan yang baru bila sudah basah. Tidak menyentuh wajah saat bersin atau batuk. Gunakan tisu atau lengan baju bagian dalam untuk menutupi hidung dan mulut.</p>



<p>Cuci tangan dengan air bersih dan sabun atau<em>&nbsp;hand sanitizer</em>&nbsp;setelah bersin atau batuk. Orangtua dapat mengajari etika ini dengan memberikan contoh kepada anak. Anak akan lebih mudah mengikuti bila melihat contoh langsung.</p>



<p><strong>Memilih transportasi untuk ke sekolah</strong><br>Tidak disarankan untuk menggunakan transportasi umum bagi siswa untuk pergi dan pulang dari sekolah. Sebaiknya antar dan jemput anak dengan kendaraan pribadi bila memungkinkan.</p>



<p>Jika tidak, sekolah dapat berkoordinasi dengan dinas perhubungan di daerahnya untuk menyediakan sarana transportasi khusus siswa sekolah, tidak bercampur dengan masyarakat umum.</p>



<p><strong>Tidak menyentuh wajah, mata, hidung dan mulut</strong><br>Droplet yang mengandung virus corona dapat memasuki tubuh manusia lewat tiga bagian yang berongga di wajah, yaitu mata, hidung, dan mulut. Orangtua mesti tidak putus mengingatkan buah hatinya agar senantiasa mengenakan masker di sekolah.</p>



<p>Ingatkan pula supaya tidak menyentuh wajahnya dengan alasan apa pun. Bila hendak menyentuh wajah, cuci tangan dulu dengan sabun.</p>



<p>dr Ria juga memberikan informasi tips dan skema menjaga jarak di sekolah. Surat keputusan bersama empat menteri juga mengatur soal jaga jarak untuk mencegah penularan COVID-19 di sekolah.</p>



<p>Untuk sekolah dasar hingga sekolah menengah atas dan sederajat, ada aturan jaga jarak minimal 1,5 meter dan tiap kelas berisi maksimal 18 peserta didik. Khusus bagi sekolah luar biasa dan pendidikan anak usia dini, maksimal peserta didik lima orang per kelas.</p>



<p>Sekolah juga wajib mengatur tata letak ruangan dengan pedoman; jarak antar-orang 1,5 meter baik saat duduk, berdiri, maupun antre. Memberikan tanda jaga jarak di ruang-ruang sekolah.</p>



<p>Sirkulasi udara di kelas harus memadai. Bila tak memadai, pembelajaran tatap muka dilangsungkan di ruang terbuka di area sekolah.</p>



<p>Sekolah juga wajib membuat pengaturan lalu lintas satu arah di lorong atau koridor dan tangga. Bila tak memungkinkan, harus ada tanda pemisah dan penanda arah jalur.</p>



<p>&#8220;Tidak cukup dengan protokol kesehatan, penghuni sekolah mesti senantiasa menjaga kebersihan selama di sekolah. Salah satu caranya dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Untuk membantu penerapan PHBS, sekolah harus menyediakan sarana sanitasi dan kebersihan,&#8221; kata dr. Ria.</p>



<p>Toilet bersih dan layak, tempat cuci tangan dengan sabun dan<em>&nbsp;hand sanitizer</em>&nbsp;harus disediakan oleh sekolah.</p>



<p>Sekolah juga harus memiliki satuan tugas penanganan COVID-19 dengan berbagai tim di dalamnya. Tim ini berfungsi memastikan kebijakan dan infrastruktur guna mencegah penularan COVID-19 di sekolah telah tersedia dan terlaksana.</p>



<p>Penyusunan kebijakan dan penyediaan infrastruktur berpedoman pada surat keputusan bersama empat menteri serta satuan tugas penanganan COVID-19.</p>



<p>Infrastruktur dalam hal ini termasuk tempat cuci tangan/<em>hand sanitizer, thermo gun</em>&nbsp;untuk mengecek suhu tubuh, ruangan dengan sirkulasi udara memadai, penanda jaga jarak di bangku dan lorong-lorong, serta ruangan isolasi bagi warga sekolah dengan gejala COVID-19.</p>



<p>Adapun kebijakan mencakup aturan <em>screening</em>, penegakan protokol kesehatan, hingga tata cara ketika ada penghuni sekolah yang memerlukan penanganan karena sakit.(bgn123)21060702</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://baliglobalnews.com/tips-aman-saat-anak-kembali-belajar-tatap-muka-di-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Manfaat bertanam untuk bantu lawan penyakit hingga jaga daya ingat</title>
		<link>https://baliglobalnews.com/manfaat-bertanam-untuk-bantu-lawan-penyakit-hingga-jaga-daya-ingat/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=manfaat-bertanam-untuk-bantu-lawan-penyakit-hingga-jaga-daya-ingat</link>
					<comments>https://baliglobalnews.com/manfaat-bertanam-untuk-bantu-lawan-penyakit-hingga-jaga-daya-ingat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[DEA17]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Nov 2020 07:04:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[dayaingat]]></category>
		<category><![CDATA[gayahidup]]></category>
		<category><![CDATA[hobi]]></category>
		<category><![CDATA[manfaat]]></category>
		<category><![CDATA[tanaman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://baliglobalnews.com/?p=16020</guid>

					<description><![CDATA[<div style="margin-bottom:20px;"><img width="800" height="533" src="https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2020/11/planting-865294_1280.jpg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" srcset="https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2020/11/planting-865294_1280.jpg 800w, https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2020/11/planting-865294_1280-300x200.jpg 300w, https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2020/11/planting-865294_1280-768x512.jpg 768w, https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2020/11/planting-865294_1280-450x300.jpg 450w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /></div>Nasional, Baliglobalnews Bertanam menjadi salah satu pilihan orang-orang di masa pandemi COVID-19 beberapa bulan terakhir. Di perkotaan, istilah&#160;urban farming&#160;atau konsep berkebun yang memanfaatkan ruang di rumah atau pemukiman perlahan mulai pun populer dan sejumlah pihak melihat peluang ini dengan menghadirkan berbagai inovasi salah satunya menyediakan konten belajar bertanam. Dari sisi kesehatan, selain sebagai cara menghabiskan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div style="margin-bottom:20px;"><img width="800" height="533" src="https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2020/11/planting-865294_1280.jpg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2020/11/planting-865294_1280.jpg 800w, https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2020/11/planting-865294_1280-300x200.jpg 300w, https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2020/11/planting-865294_1280-768x512.jpg 768w, https://baliglobalnews.com/wp-content/uploads/2020/11/planting-865294_1280-450x300.jpg 450w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /></div>
<p>Nasional, Baliglobalnews</p>



<p>Bertanam menjadi salah satu pilihan orang-orang di masa pandemi COVID-19 beberapa bulan terakhir.</p>



<p>Di perkotaan, istilah&nbsp;<em>urban farming</em>&nbsp;atau konsep berkebun yang memanfaatkan ruang di rumah atau pemukiman perlahan mulai pun populer dan sejumlah pihak melihat peluang ini dengan menghadirkan berbagai inovasi salah satunya menyediakan konten belajar bertanam.</p>



<p>Dari sisi kesehatan, selain sebagai cara menghabiskan waktu di rumah, kegiatan ini juga bisa membantu meningkatkan kesehatan Anda, salah satunya untuk melawan penyakit.<br>Bertepatan dengan Hari Menanam Pohon Indonesia, berikut ulasan manfaat bertanam untuk Anda:</p>



<p><strong>1. Lawan penyakit</strong><br>Saat Anda berada di luar rumah dan terpapar sinar matahari, kulit Anda menggunakan sinar matahari untuk vitamin D. Para peneliti, seperti dilansir dari Healthline, Sabtu memperkirakan, setengah jam di bawah sinar matahari dapat menghasilkan antara 8.000 dan 50.000 unit internasional (IU) vitamin D dalam tubuh.</p>



<p>Tapi ini tergantung seberapa tebal pakaian yang menutupi tubuh Anda dan juga warna kulit Anda.</p>



<p>Vitamin D sendiri memiliki sederet manfaat untuk tubuh antara lain memperkuat tulang dan sistem kekebalan Anda. Berbagai studi juga menunjukkan, berada di bawah sinar matahari dapat membantu menurunkan risiko berbagai kanker seperti payudara, kolorektal, kandung kemih, prostat, limfoma non-Hodgkin hingga<br><em>multiple sklerosis</em>.</p>



<p>Pakar kesehatan mengatakan, jika kadar vitamin D Anda rendah, maka Anda memiliki risiko lebih besar terkena serangan psoriasis, sindrom metabolik (kondisi pradiabetes), diabetes tipe II, dan bahkan demensia.</p>



<p><strong>2. Bantu jaga berat badan dan kualitas tidur</strong><br>Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebut, berkebun (bagian dari bertanam) bisa membangun kekuatan, meningkatkan kualitas tidur, dan membantu Anda mempertahankan berat badan yang sehat.</p>



<p>Aktivitas seperti memotong rumput mungkin termasuk dalam kategori olahraga ringan hingga sedang, sedangkan menyekop, menggali, dan memotong kayu dapat dianggap sebagai olahraga berat.</p>



<p>Beraktivitas di lahan menggunakan setiap kelompok otot utama di tubuh dan tidak akan mengejutkan jika Anda bangun pagi besok hari merasa sakit setelah seharian bekerja.</p>



<p>Penelitian telah menemukan, aktivitas fisik seperti berkebun dapat membantu mengimbangi kenaikan berat badan terkait usia dan obesitas pada anak.</p>



<p>Para peneliti di University of Pennsylvania mengungkapkan, orang yang berkebun lebih mungkin mendapatkan tidur nyenyak selama 7 jam di malam hari.</p>



<p><strong>3. Bantu jaga daya ingat</strong><br>Terkait ingatan, dokter mengungkapkan berolahraga meningkatkan fungsi kognitif di otak dan berkebun bisa menjadi salah satunya. Aktivitas berkebun dapat memacu pertumbuhan saraf terkait memori di otak Anda.</p>



<p>Peneliti di Korea membuktikan aktivitas berkebun selama 20 menit pada penyandang demensia bisa meningkatkan jumlah beberapa faktor pertumbuhan saraf otak yang terkait dengan memori.</p>



<p>Di Belanda dan Norwegia, orang dengan demensia sering berpartisipasi dalam program inovatif berkaitan dengan bertanam, yang memungkinkan mereka menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja di lahan pertanian dan kebun.</p>



<p><strong>4. Dorong suasana hati</strong><br>Penelitian di Amerika Serikat menemukan, berkebun meningkatkan suasana hati dan meningkatkan penghargaan diri Anda. Ketika orang menghabiskan waktu di taman, tingkat kecemasan mereka menurun, begitu juga dengan depresi mereka.</p>



<p>Studi yang diterbitkan pada 2011 menunjukkan, orang dengan depresi yang berpartisipasi dalam intervensi berkebun selama 12 minggu kondisinya membaik termasuk gejala depresi. Kondisi ini berlangsung selama berbulan-bulan setelah intervensi berakhir.</p>



<p><strong>5. Menenangkan Anda</strong><br>Bekerja di taman, kebun atau lahan pertanian dapat membantu memulihkan diri jika Anda mengalami sesuatu yang membuat stres. Dalam sebuah studi tahun 2011, para peneliti mengungkapkan, mereka yang menghabiskan waktu untuk berkebun pulih dari stres lebih baik ketimbang misalnya membaca. Mereka yang berkebun juga mengakui suasana hati mereka telah kembali ke keadaan positif.</p>



<p><strong>6. Cara pulihkan diri dari kecanduan</strong><br>Terapi hortikultura telah ada selama ribuan tahun dan ini menjadi bagian dari program pemulihan kecanduan.</p>



<p>Dalam sebuah studi para peneliti mencatat, tanaman memicu perasaan positif pada orang yang pulih dari kecanduan alkohol, dan merupakan alat rehabilitasi yang efektif.</p>



<p>Dalam studi lain, orang-orang dalam program rehabilitasi yang memilih berkebun sebagai terapi alami mereka melaporkan pengalaman yang lebih memuaskan daripada mereka yang memilih seni.</p>



<p><strong>Tips aman bertanam</strong><br>Seperti halnya aktivitas lain, bertanam memiliki risiko tertentu bagi kesehatan dan keselamatan Anda. CDC merekomendasikan sejumlah tindakan pencegahan saat Anda berada di lahan pertanian atau kebun, yakni:</p>



<p>1. Perhatikan petunjuk produk setiap kali Anda menggunakan bahan kimia. Beberapa pestisida, pembasmi gulma, dan pupuk bisa berbahaya jika digunakan secara tidak benar.</p>



<p>2. Kenakan sarung tangan, goggle, celana panjang, sepatu tertutup, dan perlengkapan keselamatan lainnya, terutama jika Anda menggunakan alat tajam.</p>



<p>3. Gunakan semprotan serangga dan tabir surya.</p>



<p>4. Minum banyak air dan sering-seringlah beristirahat untuk mencegah kepanasan dan dehidrasi.</p>



<p>5. Awasi anak-anak. Peralatan tajam, bahan kimia, dan panas luar ruangan dapat menjadi ancaman yang lebih bagi mereka.</p>



<p>6. Dengarkan tubuh Anda. Sangat mudah untuk melukai diri sendiri saat Anda misalnya saat mengangkat sekop yang penuh dengan kotoran.</p>



<p>7. Pastikan Anda mendapatkan vaksinasi tetanus setiap 10 tahun sekali, karena tetanus hidup di dalam tanah. (bgn123)20112803</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://baliglobalnews.com/manfaat-bertanam-untuk-bantu-lawan-penyakit-hingga-jaga-daya-ingat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
