SRMP 17 Tabanan Siap Pindah ke Karangasem, Kapasitas Naik Menjadi 260 Siswa
Singasana, Baliglobalnews
Proses rintisan Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 yang beroperasi di Sentra Mahatmiya Bali, Kabupaten Tabanan, bersiap memasuki babak baru. Mulai Juli 2026 mendatang, seluruh aktivitas pendidikan akan dipindahkan secara serentak ke gedung permanen yang berlokasi di Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem.
Perpindahan ini bertepatan dengan momentum tahun ajaran baru 2026/2027. Seiring dengan peresmian fasilitas baru tersebut, daya tampung sekolah rakyat (SR) tingkat SD sampai SMA se-Bali ini dipastikan melonjak drastis hingga mampu mengakomodasi 260 siswa.
Kepala Sentra Mahatmiya Bali Tommy Heriyanto mengatakan per 14 Mei 2026, progres fisik pembangunan gedung permanen di Karangasem telah menyentuh angka 51 persen. Bangunan utama yang meliputi ruang kelas, asrama, hingga ruang guru ditargetkan rampung sepenuhnya pada Juni.
Menurut Tommy, selama masa rintisan di Tabanan, Sentra Mahatmiya Bali hanya bertindak sebagai tempat penampungan sementara melalui skema berbagi sarana dan prasarana (sharing sarana prasarana). Secara organisasi dan anggaran, SRMP 17 Tabanan ini dikelola mandiri secara terpisah di bawah Pusdiklat Bangprof Kementerian Sosial RI. “Saat ini ada 74 siswa tingkat SMP yang belajar di Sentra Mahatmiya Bali. Dengan berpindahnya lokasi ke gedung permanen di Karangasem, kapasitas tampung akan naik tajam dari puluhan menjadi 260 siswa untuk tingkat SD sampai SMA se-Bali,” ujar Tommy saat memberikan keterangan pada Senin (18/5/2026).
Kendati kapasitas ruang belajar meningkat, Tommy mengakui adanya potensi penurunan jumlah siswa lama akibat dampak relokasi lintas kabupaten ini. Tantangan terberat dalam proses transisi ini bukan datang dari anak-anak, melainkan dari faktor psikologis orangtua. Jarak tempuh yang cukup jauh mencapai 4 jam perjalanan dari Kabupaten Tabanan menuju Kubu, Kabupaten Karangasem membuat sejumlah orang tua merasa berat untuk melepas anak-anak mereka tinggal di asrama. “Kemungkinan (siswa mundur) itu tetap ada. Kalau kita memindahkan dari sekolah rintisan ke sekolah permanen, sepanjang itu apalagi beda kabupaten, potensi itu tetap ada. Namun, mitigasinya nanti akan disiapkan oleh Pusat,” katanya seraya menambahkan, sementara para siswa cenderung menikmati kebersamaan karena mereka pindah bersama teman dan guru yang sama.
Selain menyiapkan pemindahan siswa lama, Sentra Mahatmiya Bali juga tengah gencar melakukan penjangkauan calon peserta didik baru. Sasaran utamanya adalah anak usia sekolah yang putus sekolah dari keluarga penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) pada desil 1 dan 2.
Proses seleksi dilakukan dengan menyisir data puluhan ribu keluarga, diikuti dengan verifikasi langsung ke lapangan untuk memberikan edukasi kepada orang tua terkait program sekolah rakyat. “Jika bersedia, akan dimasukkan ke daftar awal dan diinput ke aplikasi untuk calon siswa. Setelah itu diverifikasi kembali sebelum ditetapkan melalui SK Gubernur,” katanya.
Dia menyampaikan sistem pembelajaran di sekolah rakyat yang baru ini dibuat sangat fleksibel dengan menerapkan metode multi-entry dan multi-exit. Artinya, sekolah menerima anak dengan latar belakang usia sekolah dan kelas berapapun tanpa harus menunggu tahun ajaran baru dari kelas satu. “Jadi kita buat sefleksibel mungkin. Kemampuan belajarnya nanti kita sesuaikan. Jika belum bisa baca. Nah, mereka diberikan pendalaman, pengayaan, dan pendampingan khusus hingga sudah bisa baca,” ungkapnya.
Pihaknya memastikan akan ada langkah mitigasi dari pemerintah pusat jika terdapat siswa yang tidak melanjutkan, termasuk opsi kembali ke sekolah formal agar tidak putus pendidikan. “Dengan ditargetkannya pembangunan rampung sebelum Juli, diharapkan seluruh proses relokasi berjalan lancar dan kegiatan belajar mengajar di gedung baru dapat segera dimulai,” pungkasnya. (bgn020)26051809