Kinerja Sektor Jasa Keuangan Terjaga Ditengah Ketidakpastian Kondisi Global
Denpasar, Baliglobalnews
Kinerja Sektor Jasa Keuangan (SJK) tetap terjaga di tengah dinamika ketidakpastian perekonomian global, serta ketidakpastian kondisi geopolitik. Hal itu dikatakan Kepala Departemen Surveillance dan Kebijakan Sektor Jasa Keuangan Terintegrasi, Agus Firmansyah di Denpasar pada Rabu (6/5/2025).
Dia menyampaikan dalam rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada area domestik, ekonomi nasional tumbuh solid di level 5,61 persen, ditopang kontribusi konsumsi rumah tangga dan peningkatan pengeluaran pemerintah. “Dari sisi indikator permintaan, Indeks Keyakinan Konsumen masih berada di zona optimis meskipun termoderasi, pertumbuhan penjualan ritel menjadi sebesar 2,4 persen yoy dan penjualan kendaraan bermotor terkontraksi secara tahunan,” jelasnya.
Dari sisi ketahanan eksternal, kata dia, cadangan devisa Maret 2026 tercatat sebesar USD148,2 miliar, dengan neraca perdagangan yang surplus sebesar USD1,2 miliar. Industri pengelolaan investasi mencatatkan kinerja positif di bulan laporan, dengan Nilai Asset Under Management (AUM) per 29 April 2026 mencapai Rp1.072,64 triliun. Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksa Dana tercatat Rp711,89 triliun, tumbuh positif 2,32 persen mtd dan 5,41 persen ytd.
Dia menyampaikan kinerja industri Reksa Dana yang tetap terjaga ditopang oleh kecenderungan investor Reksa Dana untuk melakukan subscription, dengan angka net subscription sebesar Rp8,11 triliun.
Dia menjelaskan jumlah investor di pasar modal dalam negeri melanjutkan tren peningkatan, dengan penambahan sebanyak 1,74 juta investor baru pada April 2026. Dengan perkembangan tersebut, jumlah investor di pasar modal tumbuh.30,06 persen menjadi 26,49 juta investor. “Pasar modal domestik terus menjalankan peran pentingnya sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi korporasi. Hingga April 2026, nilai fundraising oleh korporasi di pasar modal telah mencapai Rp56,35 triliun, terdiri dari 1 Penawaran Umum Saham Perdana (IPO), 1 Penawaran Umum Terbatas (PUT), 6 Penawaran Umum Efek Bersifat Utang dan atau Sukuk (EBUS), dan 44 Penawaran Umum Berkelanjutan EBUS. Sementara pada pipeline, terdapat 71 rencana Penawaran Umum dengan nilai indikatif Rp49,84 triliun,” jelasnya.
Sementara kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL gross sebesar 2,14 persen (Februari 2026: 2,17 persen) dan NPL net terjaga di 0,83 persen (Februari 2026: 0,83 persen). Loan at Risk (LaR) tercatat sebesar 8,94 persen (Februari 2026: 9,24 persen). Secara umum, tingkat profitabilitas bank (ROA) sebesar 2,47 persen (Februari 2026: 2,37 persen).
Setelah memperhitungkan pembagian dividen, indikator permodalan (CAR) tercatat sebesar 25,09 persen (Februari 2026: 25,83 persen), menandakan ketahanan permodalan perbankan yang kuat sebagai buffer mitigasi risiko yang memadai. (bgn008)26050702