Sambut Nyepi, BTID Dukung Enam Banjar di Desa Serangan Gelar Safari Ogoh-ogoh
Denpasar, Baliglobalnews
Menjelang perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948, PT Bali Turtle Island Development (BTID) mendukung enam banjar dan masyarakat di Desa Serangan menggelar kegiatan safari ogoh-ogoh.
“Kegiatan safari ogoh-ogoh ini bukan hanya agenda rutin kami, tetapi juga merupakan bentuk penghormatan kami terhadap kearifan lokal Desa Serangan. Kami senang sekali melihat antusiasme para pemuda yang mampu menyatukan kreativitas seni dengan nilai-nilai keberlanjutan melalui penggunaan material ramah lingkungan,” kata Kepala Komunikasi BTID Zefri Alfaruqy di Denpasar pada Senin (16/3/2026).
Dia menyebutkan safari ogoh-ogoh dilakukan di enam banjar, dimulai dari Banjar Kawan, dilanjutkan ke Banjar Peken, Kaja, Pongjok, Tengah, dan diakhiri di Banjar Dukuh. Hal ini menjadi dukungan BTID untuk terus berjalan berdampingan dengan masyarakat dalam menjaga identitas budaya Bali. Mengingat betapa krusialnya menjaga akar budaya di tengah modernitas, BTID memberikan dukungannya dengan menyambangi enam banjar dan memberikan dana apresiasi atas mahakarya seni para pemuda-pemudi setiap Banjar yang ada. “Dukungan ini diharapkan dapat menjadi stimulan bagi seka teruna untuk terus berkarya. Kami percaya bahwa harmoni antara pengembangan kawasan ekonomi dengan pelestarian tradisi adalah kunci bagi kemajuan bersama di masa depan,” ucapnya.
Bagi masyarakat Bali khususnya Desa Serangan, tradisi ogoh-ogoh bukan sekadar parade seni tahunan, melainkan simbol penting dalam menetralisir kekuatan negatif (bhuta kala) demi menjaga keseimbangan alam semesta, sebelum memasuki keheningan Nyepi. Proses pembuatan Ogoh-ogoh di Balai Banjar menjadi ruang bagi ST untuk merawat semangat gotong-royong, tradisi, dan kreativitas lintas generasi.
Ketua ST Satya Witra Banjar Kawan I Wayan Adi Saputra mengatakan dalam safari tahun ini mempersembahkan ogoh-ogoh Bhagawan Samirana, dengan material yang digunakan cukup ramah lingkungan, seperti kertas dan koran bekas. “Tahun ini kami ingin tampil sedikit berbeda. Ogoh-ogoh tidak semata menggambarkan bhuta kala, tapi ada unsur estetika dan pesan kebaikan di dalamnya,” ujarnya.
Saputra mengapresiasi atas dukungan BTID dalam merawat tradisi kebudayaan dan keagamaan di Serangan. “Ya, positif ya. Terima kasih juga untuk BTID Kura Kura Bali yang selalu mendukung kegiatan kita apapun di pemuda, seperti penjor dan ogoh-ogoh ini. Jadinya dengan adanya apresiasi dari BTID ini kita bisa menghasilkan karya,” ujarnya. (bgn008)26031620